Senin, 21 Maret 2011

Resep Sukses Sandiaga Uno



Siapa tak kenal Sandiaga Uno? Pengusaha sukses asal Pekanbaru ini ternyata tak pernah membayangkan dirinya berada pada puncak karir seperti sekarang. Karena kepepet, Sandi malah bisa merasakan perjuangannya jatuh bangun menjalani karirnya.

Sandiaga Uno. Siapa yang tak mengenalnya? Di kalangan entrepreneur, nama Sandi sudah tak asing lagi. Sandi bahkan sempat meraih penghargaan sebagai orang terkaya urutan 29 se-Asia versi Majalah Forbes.

Sandi tak pernah menyangka, bahkan heran namanya disejajarkan dengan raja minyak di seluruh Asia.

“Ha..ha..ha...Saya juga bingung dari mana orang bisa menilai kekayaan saya, saya sendiri nggak yakin kekayaan saya sebanyak itu. Tidak ada perasaan apa-apa, target saya kan bukan untuk mengumpulkan kekayaan tapi agar menjadi manusia yang baik dan bisa memberi manfaat kepada orang banyak. “ Katanya ketika Berita Daerah menanyakan tanggapannya masuk jajaran orang terkaya se-Asia tersebut.

Penghargaan lain juga sempat mampir menghampirinya. Diantaranya meraih Asia 21 Young Leaders Initiative versi Asian Society tahun 2008, dan Entrepreneur of The Year Indonesia Region, Asia Pacific Entrepreneurship Award oleh Enterprise Asia tahun 2008.

Pahitnya Jadi Pengangguran

Menganggur sungguh tak enak. Orang sukses seperti dirinya bahkan pernah merasakan pahitnya menjadi pengangguran.

Impian untuk bekerja hingga pensiun di sebuah perusahaan mapan ternyata harus dikuburnya dalam-dalam ketika itu.

“Tahun 1997-1998, saya di PHK dari perusaaan tempat saya bekerja.” Tuturnya.

Sejak berada di bangku sekolah, memang sudah diwanti-wanti oleh kedua orangtuanya untuk lebih memilih perusahaan ternama hingga pensiun.

Sejak kecil, Sandi hobi membaca buku. Orang sekitarnya kerap menjulukinya kutu buku. Didikan disiplin orangtuanya yang mengharuskannya belajar tak kenal tempat dan waktu, membuatnya menjadi orang yang tegar dan penuh semangat tinggi, untuk berprestasi

“Orang tua saya juga tidak mempersiapkan saya menjadi pengusaha, mereka lebih suka anaknya mengikuti jejaknya yakni bekerja di sebuah perusahaan mapan, sampai pensiun.” Cerita putera dari pasangan Mien Uno dan Razik Halif Uno tersebut.

Sandi sempat merasakan indahnya bekerja di berbagai perusahaan ternama. Sebut saja di Bank Summa (Astra Group), Pacific Century Group, Singapura, Pacific Century Group, Singapura, sampai Millebium Pacific, Singapura.

Menjadi karyawan bank, memang cita-cita yang diidamkannya sejak sekolah.

“Ketika mulai menginjak remaja, saya bertekad ingin menjadi bankers. Berkarir di sebuah bank ternama hingga mencapai posisi karir puncak.” begitu tekadnya.

Namun, apa mau dikata, karir yang dibangunnya ternyata harus berakhir saat itu juga, dikarenakan ia terkena PHK di tahun 1997, ketika menjabat sebagai Executive Vice President di NTI Recources, Ltd.

Ia lantas mudik ke Indonesia, lalu mulai mempersiapkan planning bersama teman-temannya untuk mendirikan perusahaan di Indonesia.

Karena background pendidikannya adalah accounting, maka ia mulai mendirikan perusahaan penasehat keuangan bersama teman-teman SMU nya.

Tahun 1997, berdirilah PT. Recapital Advisor. Sandi memulai proyek perdananya untuk merestrukturisasi hutang sebuah perusahaan yang sedang collaps saat itu.

Perusahaan ini semakin berkembang. Sandi lalu mulai memikirkan bisnis lagi, untuk membangun perusahaan berbasis investasi keuangan lainnya.

Maka sejak bulan April tahun 1998, ia dan teman-temannya kembali mendirikan PT Saratoga Investama Sedaya hingga saat ini.


“Indonesia akan menjadi pemain handal”

Peluang bisnis investasi tenryata amat digandrungi di Indonesia. Menurutnya Indonesia akan menajdi pemain dalam percaturan bisnis internasional.

“Peluang bisnis di Indonesia besar sekali. Kita punya market lebih 230 juta orang. Kita jual apapun akan terserap pasar, tentunya kalau kita bener bikinnya. Penduduk kita ini jadi target perusahaan asing.Belum lagi kalau kita lihat sumber daya alam kita yang berlimpah.Kalau kita mau olah, sudah pasti Indonesia akan menjadi pemain handal didunia International." Katanya mengenai pasar bisnis yang dikelolanya di Indonesia.

Berkat ketekunan dan usaha kerasnya, ayah dua orang anak ini akhirnya dikenal sebagai salah satu pengusaha muda sukses. Ia dikenal bukan hanya di Indonesia, tetapi hingga kawasan Asia.

Ia juga menjabat sebagai direksi di berbagai perusahaan, diantaranya, PT Mitra Global Telekomunikasi Indonesia, PT Adaro Indonesia, PT Indonesia Bulk Terminal, dan Interra Resources Limited.

Sandi ingin mengajak anak-anak bangsa untuk membawa Indonesia setara dengan bangsa-bangsa besar lain, agar potensi besar yang dimiliki bangsa ini bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya.

“Saya gemas melihat dunia pendidikan kita masih tertinggal, sektor usaha belum tumbuh sebagaimana seharusnya. Padahal, sumber daya alam kita melimpah ruah, jumlah penduduk yang banyak serta potensi wisata paling banyak bisa membawa bangsa kita bersaing dipasar dunia.sekarang kalau bukan kita yang mengolahnya siapa lagi?” ungkap pria kelahiran Rumbai, Pekanbaru, 29 Juni 1969 itu.

Sandi saat ini memiliki ribuan anak buah dari sejumlah perusahannya.“Saya tidak punya anak buah. Tapi kalau partner kerja alhamdulilah lebih dari 10.000.” katanya.

Memimpin banyak anak buah bukanlah hal yang mudah. Sebagai pemimpin, ia merupakan tipikal pimpinan yang memberikan contoh pada anak buahnya. Lead by example, begitu ia menyebutnya.

“Jika ingin ucapan kita didengar, maka berilah contoh yang sesuai. berjika ingin mereka loyal tunjukkan bahwa anda juga loyal, dengan begitu orang-orang disekitar kita pasti akan mengikuti.” terangnya.

Resep Sukses

Karena kepepet tadi, akhirnya Sandiaga Uno patut mengecap manisnya karir di dunia usaha. Hingga detik ini, ia seperti bermimpi bisa menjadi pengusaha. Karena cita-citanya dulu hanya ingin menjadi pegawai bank yang loyal dan bekerja yang baik hingga pensiun.

“Saya juga heran saya kok bisa jadi pengusaha. Karena saya tidak pernah mempersiapkan diri menjadi seorang pengusaha.” Tuturnya.

Mencapai kesuksesan dirasanya bukan hal yang mudah. Namun ia selalu optimis bahwa selalau ada peluang di setiap keterpurukan.

“Sesulit apapun pekerjaan itu kuncinya just do it, pada prosesnya nanti pasti kita akan temukan jalan. Jadi bagi saya, tidak ada pekerjaan yang sulit sepanjang kita mau menjalaninya.” Katanya.

Sandi juga memiliki kriteria sukses sendiri. Menurutnya seseorang dikatakan sukses ketika karir, keluarga, lingkungan sosial dan spiritual sudah bernilai dan berimbang. “Saya menganggap sukses itu merupakan keseimbangan.” Katanya.

Hal terpenting yang menjadikannya tetap eksis di dunia usaha hingga saat ini adalah semangat optimisme yang ditanamkan kedua orangtuanya. Disiplin dan pergaulan yang baik akan menjadikan keseimbangan lain, seperti yang disebutkannya.

Pria berkacamata ini percaya bahwa setiap permasalahan ada solusinya. Karena itu, ia selalu optimis bisa mengerjakan semuanya lebih baik lagi esok hari. Karena ia selalu yakin bahwa hari esok lebih baik dari hari ini.


Sungai Landak, Berwisata Air Bagai di Venesia


Tak perlu jauh-jauh ke Venesia, Italia untuk menikmati romantisme wisata perairan. Karena Indonesia juga memiliki tempat yang menarik untuk dikunjungi, yaitu Sungai Landak. Di sini, anda bisa merasakan romantisme kota perairan yang tak kalah dengan kota Venesia, yang terkenal dengan kemajuan perairan dan transportasi air nya.


Indonesia yang memiliki wilayah perairan memang membuat semua penduduknya tak dapat melupakan indahnya warisan alam tersebut. Sebagai negara kepulauan, rakyat Indonesia tak asing lagi dengan hadirnya sungai, yang kemudian diperuntukkan bagi kebutuhan masyarakat sehari-hari.


Salah satunya adalah Sungai Landak, yang terletak di daerah Ngabang, Kalimantan Barat. Sungai Landak adalah salah satu dari anak sungai Kapuas, yang merupakan sungai terpanjang di Indonesia. Sungai ini seakan membelah kota Ngabang dan Pontianak.

Di antara Sungai Kapuas dan Landak, ada dua jembatan yang membentang, yaitu Jembatan Kapuas sepanjang 410 Meter dibangun tahun 1983, menghubungkan Pontianak Selatan dengan Timur.


Sedangkan Jembatan Landak sepanjang 319 Meter menyambungkan Pontianak Timur dengan Utara. Mobilitas kendaraan darat dan manusia yang lalu-lalang dikedua jembatan ini cukup padat, terutama pada pagi dan sore hari. Pejalan kaki dan pengendara sepeda berjalan di jalur khusus yang terletak di kiri-kanan jembatan.

Orang Kalimantan menyebutnya dengan Jembatan Belanda. Karena jembatan tersebut telah ada sejak zaman penjajahan Belanda, dengan arsitektur klasik ala Belanda.


Mau menikmati sensasi ala Venesia? Bisa kok. Anda tinggal menyewa sampan yang ada di sekitar perkampungan air di sana.

Karena wilayah Kalimantan didominasi oleh perairan, maka setiap tahunnya, di sini juga diselenggarakan lomba mendayung, yang biasanya tergabung dalam festival adat dan kebudayaan Kabupaten Landak.


Jadi, untuk menikmati romantisnya wisata perairan, tak perlu jauh-jauh ke Venesia kan?


(Arnelia Triwardini/DN/bd)

sumber: http://bit.ly/hV4Y3b

Senin, 07 Februari 2011

Thedy Tengko ingin Sejahterakan Masyarakat Aru


Jalan terjal berhasil dilalui Bupati Kepulauan Aru, Thedy Tengko. Lahir dari keluarga tak mampu membuat ayah 3 orang anak ini selalu mensyukuri nikmatnya hidup. Seperti apa lika-liku perjalanan karirnya?


Kepulauan Aru sendiri memiliki luas wilayah 6.325 Km2. Secara geografis terletak di 5o-8o LU dan antara 133,5o-136,5o BT terbagi menjadi 3 kecamatan yang berbatasan langsung dengan Laut Aru di sebelah utara dan timur, Laut Arafura di sebelah selatan dan barat. Kepulauan Aru beribukota di Dobo.


Memimpin sekitar 547 pulau bukanlah hal yang mudah. Hal tersebut dirasakan betul oleh sang Bupati, Thedy Tengko. Setelah terpilih terpilih sebagai Bupati dan Wakil Bupati selama dua periode, yaitu periode 2005-2010, serta tahun 2010-2015, Thedy merasakan sulitnya menjadikan sebuah pulau selangkah lebih maju dari sebelumnya.

Hapuskan Ilegal Fishing dan Garap Perkampungan Pelajar


Sosok santai itu hadir di hadapan kami. Membawa sejuta senyum mengembang di wajahnya. Ketika itu, puteranya yang ketiga baru saja usai wisuda. Walaupun sedikit lelah, namun Kolonel (Purn) Theddy Tengko, SH,M. Hum tetap berusaha santai dan mengobrol selama satu jam lebih.


Ditemani sebatang rokok, Thedy menceritakan berbagai persoalan dan pemikiran ke depan untuk menciptakan keadaan Kepulauan Aru yang lebih sejahtera.


Ketika dihadapkan pada pembangunan daerahnya, ia banyak menemui kesulitan baru, salah satunya banyaknya kegiatan illegal fishing yang terjadi di laut membuatnya gerah, dan menginginkan penegakan hukum yang jelas bagi si pelanggar.


“Indonesia merupakan negara kepulauan, seharusnya kita punya banyak pengadilan perikanan, bukan hanya empat seperti saat ini.” Tuturnya mengenai maraknya illegal fishing yang terjadi di laut arafura.

Hal tersebut membutnya sempat pesimis, dan mengharapkan bantuan dari pemerintah pusat, untuk menangkap para pelaku illegal fishing yang lalu lalang di laut Arafura.


Laut Arafura memang kaya akan hasil lautnya. Terumbu karangnya yang indah, menjadikan ikan di laut Aru beraneka ragam.


“Aru memiliki punya potensi ikan yang luar biasa.” Katanya.


Thedy berharap dalam masa kepemimpinannya, Aru bisa menjadi lebih baik lewat sejumlah program yang dicanangkannya, ia ingin merubah image Aru sebagai daerah tertinggal.


Ia juga menggagas proyek Perkampungan Pelajar. Proyek tersebut bertujuan untuk membentuk karakter manusia di Kepulauan Aru. Dengan 547 gugusan pulau, tak hanya perbedaan kawasan, tetapi karakter dan bahasa juga menjadi masalah tersendiri. Karenanya Thedy menyebut proyek Perkampungan Pelajar sebagai tempat pembentukan karakter masyarakat Aru.


“Anak-anak Aru yang di desa mau berkembang juga susahm karena tidak ada keinginan untuk pindah ke kota.” Ujarnya.

Dari Penjaga Toko hingga ke Ring Tinju


Sebelum menjadi salah satu pejabat di Kepulauan Aru, tak banyak yang tahu kalau Thedy menjalani kerasnya hidup dari nol.


Sepanjang menempuh pendidikan, peluh Thedy tak pernah berhenti bekerja keras mencari selembar rupiah untuk biaya sekolahnya.


Sebagai anak kampung asli, Thedy merasakan pahit getirnya hidup di kota kelahirannya. Berasal dari keluarga tak mampu, Thedy lantas berkeinginan mandiri. Karena itu, ketika SMU, ia pergi ke kota Ambon. Thedy mengikuti salah seorang tetangganya, untuk bekerja memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, disamping sekolah di SMU Chandra Kirana, Ambon.


Jadwal sekolah yang tak menentu, mengharuskan Thedy untuk bekerja di samping waktu sekolah. Jadwal sekolahnya yang mengharuskannya hadir seminggu pagi, dan seminggu sore, mengharuskannya berjualan di sebuah toko kelontong.


“Sekolah disana memberikan saya inspirasi untuk membangun perkampungan pelajar di Aru.” Katanya.


Lulus sekolah, Thedy bercita-cita jadi tentara. Karena itu, ia mendaftarkan diri untuk masuk Akabri. Namun, sial menerpanya. Ketika itu, ia memalsukan tandatangan orangtuanya, agar ia bisa masuk pendidikan Akabri. Tetapi, apa daya, ternyata ketahuan. Thedy pun harus mengubur niatnya dalam-dalam.


Selama setahun, Thedy menganggur. Ia kemudian mengumpulkan uang untuk modal kuliah di di Fakultas Hukum, Universitas Brawijaya, Malang.

Bangku kuliah yang mahal, mengharuskannya untuk memutar otak membiayai kuliah dan kehidupan sehari-harinya.


Thedy pun kemudian kembali berjualan di sejumlah toko kelontong. Karena tuntutan hidup yang semakin tinggi, ia juga ‘nyambi’ mengikuti kejuaraan tinju di kampusnya, disamping menjadi asisten dosen.


“Saya mati-matian bekerja dan main tinju untuk bisa bayar kuliah. Ternyata tinju itu enak juga. Saya bisa merasakan enaknya tidur di hotel, walaupun hanya 2-3 hari.” Katanya sambil tertawa.


Empat ronde pertandingan tinju menghasilkan Rp. 20.000.


“Akhirnya saya bisa bayar kuliah. Betul-betuh penuh perjuangan.” Ujarnya.

Ingin Perubahan di Tanah Kelahiran


Lulus kuliah, Thedy masih memiliki cita-cita menjadi seorang tentara. Akhirnya ia mengikuti tes di Jakarta, dan lulus.


Pria yang hobi berolahraga ini lantas ditawari untuk menjadi kepala sekolah di Banjarmasin. Setelah itu, ia kembali ke Malang, sampai berpangkat Letnan Kolonel. Thedy lalu ditugasi ke Ambon pada tahun 2000-2002.


Pulang kampung ke daerah Timur membuat Thedy ingin sebuah perubahan terjadi pada tanah kelahirannya.


Ia sempat berkali-kali ditawari mencalonkan diri jadi Bupati sejak tahun 2003. Ketika itu, Thedy menolak.


Di akhir tahun 2003, Thedy melihat pengumuman calon-calon Bupati Kepulauan Aru. Menurutnya calon tersebut tidak akan membawa perubahan pada tanah kelahirannya.


Bulan Agustus 2003, ia kembali didukung menjadi Bupati. Ketika itu, ia hanya berpikiran untuk memajukan Kepulauan Aru, yang pendudukanya masih berada di bawah tingkat kemiskinan.

“Hati harus bersih”


Thedy merasa terharu manakala ia melongok lagi pada perjalanan karirnya yang penuh liku. Tetapi kesuksesan tersebut belumlah final, ia memiliki banyak harapan ke depan.


“Tidak dapat di pungkiri memang kekurangan pasti ada. Untuk merubah seseorang dari miskin menjadi sejahtera kan tidak mudah. Tetapi saya yakin dari waktu ke waktu, Aru pasti bisa lebih baik.” Harapnya.


Namun demikian, dalam masa kepemimpinannya, kerap juga berhembus kabar tak sedap. Salah satu yang sedang santer dibicarakan akhir-akhir ini, adalah melakukan sejumlah korupsi dana APDB hingga Rp.30 milyar.


Ketika ditanya hal tersebut, Thedy santai menjawab, “Saya sempat diberitakan pada tuduhan korupsi. Keluarga saya juga mendengar kabar tersebut. Saya santai saja. Tidak saya pusingkan hal seperti itu. Keluarga saya tahu hal itu. Mereka tetap support saya. Karena mereka yang paling tahu seperti apa saya sebenarnya.“ katanya.

Thedy adalah sosok yang paling berarti di mata keluarganya. Ia mampu menjadi panutan bagi istri dan anak-anaknya.


Sebagai pemimpin keluarga, Thedy merupakan pemimpin yang demokratis. Ia membebaskan ketiga anak-anaknya unruk berkarir dan mengatur kehidupan mereka sendiri.


“Tiga anak saya tidak ada yang mengikuti jejak saya. Saya tidak pernah menuntut mereka harus menjadi apa.” katanya.


Menurut Thedy, hal terpenting yang harus dimiliki seorang pemimpin adalah hati yang bersih. Jika seseorang terobsesi menjadi pemimpin untuk mengeruk sejumlah keuntungan, hal tersebut amatlah disayangkan. Karena itu, ia memiliki tips untuk anda yang tertarik menjadi pimpinan daerah.


“Banyak orang beranggapan, saya kok santai banget menghadapi berbagai kabar-kabar miring. Karena saya tak merasa melakukannya. Jadi saya santai saja. Yang terpenting untuk menjadi pemimpin, hati harus bersih, kalau tidak, bisa kacau kepemimpinannya. Selama masih percaya sama Yang di Atas, mudah-mudahan saya bisa menjaga amanat rakyat.” Tuturnya santai.


Kesuksesan memang penuh dengan kerikil tajam. Hal itulah yang dirasakan ayah tiga orang anak tersebut. Namun keinginannya untuk memajukan masyarakat kepulauan Aru memang total. Keinginannya sebenarnya sederhana, ingin membuat Aru menjadi sebuah kepulauan yang tak kalah dengan daerah lain. Dan mengurangi kemiskinan di daerahnya. Tujuan yang mulia bukan?