Rabu, 11 Januari 2012
Santi Mia, Pengusaha Wanita Multitalenta
Kartini masa kini. Mungkin itulah sedikit hal yang tersirat dalam diri Santi Mia Sipan, Presiden Direktur Jaty Arthamas. Lewat keuletannya menggeluti berbagai bisnis, Santi bahkan sempat dianugerahi Best Women Entrepreneur of The Year dan juga menyabet gelar PGA Best Motivator of The Year pada tahun 2010.
Perusahannya juga sempat menggondol Best Company of The Year 2011 dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia.
Saat ini, Santi disibukkan dengan segudang aktivitasnya di bidang agribisnis, yakni berbisnis jati. Pohon jati yang tetap abadi, merupakan salah satu alasan Santi untuk mencoba bisnis ini.
Berbisnis di tengah kemapanan
Bisnis tersebut bermula pada tahun 2005, ketika dirinya berpartner dengan Professor Sugiharto yang memiliki bibit jati dan pengembangannya.
Padahal sebelumnya, kariernya terbilang mapan, dengan menjabat sebagai sekertaris eksekutif para konglomerat, salah satunya Bob Sadino. Kariernya begitu cemerlang, bahkan sempat menjabat sebagai Assistant President Director PT. Bimantara Citra pada tahun 1994-1998.
Namun, entah apa yang terjadi, hingga suatu saat ia merasakan sakit yang aneh, yaitu merasa mual setiap hari ingin berangkat ke kantor. Kebosananan yang amat dalam menggeluti pekerjaan kantoran inilah, yang justru membawa hoki lain dalam kehidupan Santi berikutnya.
“Saya nggak tahu itu penyakit apa, mungkin ini terjadi karena saya sudah bosan dengan pekerjaan kantoran, sehingga tubuh saya tidak kuat atau bosan menerima pekerjaan di hadapan saya,” jelasnya.
Tahun 2002, ia lantas memutuskan untuk berhenti bekerja. Ia lalu menjajal dunia multilevel marketing dengan berjualan madu botol. “Baru bergabung dua bulan, ternyata penghasilan saya sudah lumayan,” ceritanya.
Berhasil di MLM, Santi lantas berkeinginan untuk membuat multilevel sendiri di bidang properti, yang diberi nama PT. Property Global Agency di tahun 2005.
Bisnisnya berkembang pesat. Dan pada tahun 2005, Santi mengembangkan bisnisnya dengan membuka kantor pertamanya di Senayan Trade Center (STC), yang diberi nama PT. Jaty Arthamas.
Santi mencoba mengelola kebun pertamanya di wilayah Sukabumi. Tetapi karena faktor lokasi, banyak investor yang telah tertarik memilih untuk mundur, karena lokasinya tidak strategis.
Akhirnya, ia memilih Jonggol, untuk lokasi pembibitan selanjutnya. Ternyata berhasil. Permintaan kayu jati saat ini sudah sangat tinggi. Harga kayu jati pun kian meningkat setiap tahunnya.
Pihaknya juga telah bekerjasama dengan pemerintah swasta dan luar negeri, seperti Jazirah, Arab, India, dan Malaysia.
Bisnis ini ternyata berpeluang cerah. Santi juga memiliki sistem pemasaran yang cukup menarik, yaitu professional. Ia selalu menyempatkan untuk melayani permintaan kliennya. “Saya masih melayani pembeli yang hanya ingin membeli satu pohon jati, Beli jati ditempat saya juga boleh mengangsur selama enam bulan,” tutur wanita kelahiran Jakarta, 20 Mei 1965 tersebut.
Nyatanya, sudah satu dekade, bisnisnya berjalan mulus. Saat ini, pembelinya membeludak, tak hanya dari dalam negeri, tetapi juga internasional. “Anak saya yang bisa membuat saya seperti ini.”
Pernah menjadi single mother, yang bisa menghantarkan Santi hingga sukses saat ini. Perjuangan panjang untuk bisa menjalani dualisme peran, sebagai ibu dan juga ayah sekaligus, membuatnya berhasil.
Santi memiliki dua orang anak. Anak keduanya, perempuan, ternyata tidak seperti anak lainnya. Ia mengidap autis. “Putri saya autis, itulah yang menjadikan saya memiliki kekuatan yang luar biasa sampai sekarang,” ujarnya.
Ketika putrinya lahir, Santi tak henti-hentinya meneteskan air mata. Namun seiring berjalannya waktu, ia merasa lebih tegar, dari wanita manapun yang memiliki anak normal.
Sarjana Bahasa dan Sastra Perancis tersebut selalu mencari solusi, dan memutar otak untuk bisa menjalani pekerjaan apalagi guna memenuhi kebutuhan keluarganya, terlebih dalam menuntun anaknya. “Anak saya memberikan pelajaran yang berharga dan sejuta kekuatan kepada saya," katanya.
Benar saja, saat ini, Santi bisa menikmati buah kerja kerasnya. Bahkan putera pertamanya, yang saat ini duduk di bangku kuliah sudah mulai mengikuti jejak sang bunda. "Anak saya sejak usia 12 tahun, sepertinya tertarik ketika saya berbisnis MLM. Ia lalu minta diajarkan cara-caranya, dan sekarang, ia ikut membantu bisnis saya."
Bagi wanita ramah ini, kedua anaknya yang membawanya menuju dunia dan akhirat. "Anak sulung saya alhamdulilah sudah bisa membantu ibunya, sedangkan anak kedua saya memberikan saya kesabaran, dan itu pula yang akan membukakan pintu surga untuk saya nantinya," katanya.
Semua usaha kerasnya membuahkan sukses yang tak ternilai harganya. Sejumlah materi dinilainya belum mencapai apa-apa tanpa rasa syukur di balik semua itu. “Kalau merasa sukses, menurut saya lebih kepada rasa syukur yang luar biasa,” katanya.
Hingga saat ini, Santi memiliki lebih dari 150 karyawan yang membantunya dalam menjalankan agribisnisnya. Di balik semua itu, sang bunda menjadi sosok sosok teladan baginya. Sang ibu selalu berpesan kepada anak-anak perempuannya untuk bekerja, agar tidak disepelekan oleh suami nantinya. “Ibu memberikan semangat kepada saya untuk selalu maju,dan pantang menyerah,” katanya.
Di era modern, Santi Mia Sipan memang menjadi salah satu penerus Kartini, yang mengedepankan dualisme peran wanita modern. Yaitu berhasil dalam karier dan keluarga.
Warna-warni kehidupannya pun kiranya bisa memberikan inspirasi bagi setiap wanita untuk selalu bersyukur dalam menjalani hidup untuk menjadi lebih baik lagi. (*/dini)
Gagal Jadi Pengacara, Hasim Halim Sukses di Dunia Asuransi
| |
| Bakat terpendamnya sebagai marketing telah terpupuk dari kecil. Hal inilah yang menjadikan Hasim Halim, Director Consumer Corporate Marketing PT Asuransi Raksa Pratikara sukses menekuni dunia marketing yang sebenarnya. Padahal cita-cita masa mudanya ingin menjadi pengacara. Bagaimana Hasim bisa memutuskan berbelok arah? Asuransi Raksa Pratikara merupakan kelanjutan dari Asuransi Artapala yang didirikan sejak tahun 1975. Asuransi Raksa Pratikara merupakan salah satu dari sepuluh perusahaan asuransi terbesar di Indonesia dalam hal penghasilan premi bruto dan merupakan lima besar dalam perolehan premi bruto kendaraan bermotor. Hasim Halim menjalankan pekerjaan di dunia asuransi dengan berbekal kemauan keras. Berkat kerja kerasnya, ia pun berhasil ikut mengharumkan nama PT Asuransi Raksa Pratikara. Beberapa penghargaan berhasil diraih Hasim bersama perusahaannya. Tahun 2007, perusahaan ini pernah meraih Asuransi Umum Beraset 250 milyar-1 triliun dari Majalah Investor. Kemudian di tahun 2009 dalam acara Media Asuransi Award meraih 2nd Winner Best Insurance untuk kategori Peringkat Perusahaan Asuransi Umum dengan modal sendiri Rp 100-250 miliar. Sarjana Hukum yang berbelok arah Lulus SMU, Hasim tertarik untuk mendalami ilmu hukum, karena cita-citanya yang ingin menjadi seorang pengacara. Pada tahun 1988, ia lalu mengambil kuliah jurusan hukum di Universitas Tarumanegara. “Makanya orang bilang, manusia berencana, tetapi Tuhan yang menentukan. Itulah saya,” katanya sambil tertawa. Sebelum lulus kuliah, Hasim tertarik untuk magang di PT Asuransi Artapala. Motivasinya ketika itu hanyalah untuk meringankan beban keuangan orangtuanya. “Saya sudah dikuliahkan, karena itu saya ingin sedikit meringankan beban orangtua saya. “ terangnya. Ketika itu, ia bertindak sebagai part time operator telex. Hasim bekerja sejak jam 3 sore hingga malam. Di sana, ia banyak berhubungan dengan pihak luar negeri. Karena itulah, jam malam lebih sibuk daripada ketika siang hari, lantaran perbedaan waktu dengan negara di luar Indonesia. Hasim mengaku awalnya hanya coba-coba di dunia asuransi. Lama-kelamaan, ia menikmati bekerja di dunia tersebut. “Asuransi itu memang general. Semua disiplin ilmu masuk. Dulu saya juga tidak pernah terpikir harus ambil jurusan special insurance kalau di asuransi,” tuturnya. Karena sudah menikmati di bidang tersebut, maka lulus kuliah, cita-citanya pun terlupakan. Hasim telah merasa nyaman berada di lingkungan yang telah membesarkan kariernya. Setelah menjadi part time operator telex, tahun 1988 ia menjadi Asisten Claim Manager di perusahaan tersebut. Tahun 1994, ia memutuskan untuk mengambil kursus asuransi untuk memperkaya pengetahuannya. Maka Hasim ikut kursus Insurance Management GIO Reinsurance di Australia. Karirnya pun terus berkembang. Ia lalu menjabat sebagai Marketing Manager tahun 1995-1997. Dan di tahun 1997-1998, ia menjabat sebagai Senior Claim Manager. Tahun 1999, ia dipercaya menjadi Director Consumer Marketing. Dan di tahun 2010, Hasim kembali dipercaya untuk menjadi Director Consumer Corporate Marketing. “Sebagai prajurit, kita kan harus siap ditempatkan di mana saja,” kata anak ketujuh dari 10 bersaudara ini. Hasim tumbuh dari keluarga sederhana. Kedua orangtuanya memiliki usaha tekstil. Keluarganya yang sederhana memiliki prinsip untuk memberikan warisan dalam bentuk ilmu. “Kata ayah ibu saya, ilmu itu tidak akan habis. Itulah yang saya ingat sampai sekarang,” kata pria yang hobi olahraga tersebut. Sejak duduk di bangku SD, ia pun rajin membantu orangtuanya menjaga toko. Ketika liburan panjang datang, bukan rekreasi yang didapatnya, melainkan membantu ayah ibunya di toko tekstil. Keharusan untuk berjualan menjadikan jiwa marketing-nya mulai muncul. Hasim kecil mulai terbiasa dengan sopan menyapa pelanggannya. Mengambilkan apa yang diinginkan oleh pelanggan, agar mereka mau mengunjungi tokonya kembali. Di mata keluarga, Hasim termasuk orang biasa-biasa saja. Ia jarang bermain dengan teman-temannya. Hasim lebih memilih untuk menjadi anak rumahan. Dua puluh empat tahun berkecimpung di dunia asuransi bukanlah hal yang mudah. Hasim telah melewati pahit getirnya menjadi karyawan. Karena itu, ketika menjadi pemimpin, ia tetap menyukai pekerjaan dengan produktivitas kerja yang tinggi. Kepada anak buah, ia selalu mengutamakan diskusi. Saling melengkapi, begitu ia biasa mengatakannya. “Yang kita jual dalam asuransi itu sebetulnya hanyalah kepercayaan. Bagaimana agar klien itu mau percaya pada produk kita. Karena itu, tidak bisa bekerja sendirian," katanya. Sebagai seorang pimpinan, banyak orang lupa diri, bahkan menjadi sombong. Mengenai hal tersebut, Hasim berpendapat bahwa seorang pemimpin tidak boleh sombong. “Kalau sombong, bagaimana nantinya bisa memberikan apresiasi ke karyawannya,” terang pria kelahiran Jakarta, 7 April 1962 tersebut. (*/dini) Link: http://ciputraentrepreneurship.com/entrepreneur/nasional/intrapreneur/14195-gagal-jadi-pengacara-hasim-halim-sukses-di-dunia-asuransi.html |
Rabu, 07 Desember 2011
Rabu, 12 Oktober 2011
Eksotisme Negeri Laskar Pelangi

Jika menyebut daerah Belitung, pasti yang terlintas adalah film Laskar Pelangi. Film ini memang sukses memperkenalkan daerah Belitung, dengan segala keindahannya. Pulau Belitung pun menjadi terkenal. Semua orang penasaran ingin mengintip keindahan dibalik Negeri Laskar Pelangi itu. Ada apa sih disana?
Yang pasti, begitu mampir ke Belitung, anda akan menemukan berbagai pantai yang memikat hati. Pasir-pasir putih menghampar begitu saja. Salah satunya yang terdapat di Gusung Pasir. Dinamakan demikian, karena pulau ini begitu unik. Di tengah lautan, terdapat gundukan pasir yang tak terlampau tinggi.
Pasir yang biasa kita temukan di pinggir laut, menjadi satu pemandangan yang unik, ketika anda berkunjung ke sini.
Pulau ini begitu mempesona. Penuh dengan segala keunikannya yang menggoda. Jika di pantai lain, banyak terdapat ikan dan kepiting, di pantai ini, bintang laut yang menjadi sang primadona.
Keunikan lainnya terdapat pada banyaknya bintang laut yang bisa kita temui di sepanjang tempat ini.
Jika anda kesana, jangan lupa untuk mampir juga ke Pulau Kepayang, yang tak kalah menarik. Di sana, anda bisa mendapati lautan biru kehijauan yang begitu jernih. Pulau itu dipenuhi dengan beberapa batu besar hampir di pinggir-pinggir lautan.
Anda juga bisa melihat berbagai penyu dan terumbu karang yang indah di sana. Karena pulau ini telah ditetapkan sebagai pulau konservasi penyu.
Dua lokasi wisata di atas, hanyalah beberapa tempat eksotis yang bisa didapati di negeri Laskar Pelangi. Yang pasti, bawalah kamera untuk berfoto sepuasnya di tempat-tempat indah tersebut, agar wisata penuh dengan kesan.
Sumber: http://beritadaerah.com/
Special Thanks to Mr. Mr. Jeffry Surianto for the permission to publish his photo
Kamis, 25 Agustus 2011
Sambutlah Lumba-Lumba dari Lovina!
Nah, jika anda berkunjung ke Bali, jangan hanya sampai ke Pantai Kuta saja. Berkunjunglah ke bagian utara Bali, tepatnya di Pantai Lovina.
Lovina pun menjadi istimewa dengan keberadaan lumba-lumba di sana. Atraksi lumba-lumba pun menjadi salah satu wisata menarik yang tak boleh terlewatkan.
Jika anda lelah, dan ingin beristirahat, berbagai hotel dan resort banyak ditawarkan di sepanjang Pantai Lovina.
Fadel Muhammad Cinta Produk Indonesia
Cinta produk Indonesia. Hal tersebut bukan hanya sekedar slogan. Inilah yang terjadi pada Fadel Muhammad. Menteri Kelautan dan Perikanan tersebut mengungkapkan rasa cinta terhadap Indoenesia dengan cara menolak habis-habisan produk impor.
Sosoknya begitu hangat. Menyapa semua pewarta dengan senyum manisnya. Kala itu, Fadel Muhammad, yang menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan, baru saja usai memberikan materinya dalam sebuah acara ekonomi di Jakarta.
Pria asal Gorontalo tersebut seperti menjadi pahlawan di dunia perikanan di Indonesia. Bagaimana tidak, ia mati-matian mengusahakan kemajuan perekonomian nelayan Indonesia, dan meminimalisasi terjadinya impor di negara ini.
Nama Fadel pun lantas mencuat karena perjuangannya diacungi jempol oleh presiden SBY baru-baru ini. Namun hal tersebut tidaklah mudah. Karena sejumlah impor malah merambah Indonesia. Yang terhangat adalah berita seputar impor garam.
Perseteruan pun terjadi antara dua institusi, Kemeterian Kelautan dan Perikanan, yang mengharamkan impor, dan Kementerian Perdagangan, yang melakukan sejumlah impor, dengan dalih menyelamatkan perekonomian Indonesia.
Mengenai hal tersebut, Fadel terang-terangan menolak. Menurutnya, membeli garam dari petani justru akan meningkatkan perekonomian Indonesia.
“Selain kita membantu mengangkat perekonomian Indonesia, kita juga sekaligus menaikkan tingkat perekonomian Indonesia nantinya.” Tuturnya.
Hobi Makan Ikan
Pria yang melewatkan masa kecil di Gorontalo tersebut rasanya begitu pas menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan.
Ia begitu peduli dengan dunia pangan Indonesia. Alhasil ketika ia pernah menjabat sebagai gubernur Gorontalo tahun 2006 silam, ia menanamkan 'Gerakan Peningkatan Produksi Padi Nasional 2 Juta Ton. '
Pemilihan gubernur yang sempat mememcahkan rekor MURI, karena memenangkan 81 persen suara ketika itu, menjadikan Fadel sosok yang cukup diingat oleh sebagian besar masyarakat.
Menjadi menteri kelautan dan perikanan membuatnya ingat masa kecilnya dulu.
“Saya hobi sekali makan ikan. Jadi menteri seperti ini karena sering makan ikan dari kecil,” tuturnya sembari tertawa.
Fadel memang dikenal paling giat mengkampanyekan gerakan makan ikan. Bahkan, ia mencanangkan agar ikan bisa menjadi konsumsi utama masyarakat Indonesia.
“Wilayah Indonesia sebagian besar merupakan wilayah perairan, jadi tak sulit untuk menemukan ikan. Gizi ikan juga dikenal begitu tinggi.” Katanya.
Kerahkan Sejuta Budidaya
Saat ini, Fadel juga sedang disibukkan dengan berbagai perencanaan ke depan. Beberapa tahun belakangan, ia mengerahkan budidaya, seperti rumput laut, ikan nila, ikan patin di beberapa wilayah Indonesia.
Tahun 2012, Fadel juga ingin memperkenalkan sistem aqua culture, yang akan diperkenalkan di dunia regional.
Aqua culture sendiri merupakan konsep baru yang dibuat mengenai perkemangan wilayah yang berbasis perikanan.
“Di Pulau Seribu, Medan Banggai Kepulauan saat ini sedang kami galakkan system ini. Anggarannya juga tidak besar, hanya 200 milyar,” jelasnya.
Aqua culture lalu menjadi visi ke depan Fadel. Ia berharap system ini bisa dijalankan ke pasar local dan regional.
Gencarnya impor yang dilakukan institusi lain, membuat Fadel Muhammad berkali-kali ‘marah’ di berbagai media. Pria berkacamata ini memang prihatin dengan maraknya impor, terlebih lagi impor illegal yang banyak ditemukan di Indonesia.
“Sayakemarin dari Ambon. Dulu orang Muara Baru banyak yang impor. Tetapi sejak ada peraturan larangan impor, maka mereka beli produk lokal.” Katanya.
Mengenai impor yang terbilang mudah, Fadel memang mengakuinya, tetapi ia merasa prihatin dengan keadaan nelayan Indonesia.
“Impor itu memang mudah dan murah. Tetapi kasihan kan nelayan kita. “ katanya miris.
Melihat perjuangan Fadel yang mati-matian menolak segala macam produk impor, rasanya cukup menyejukkan hati. Dimana, akhir-akhir ini, produk impor kian merajalela di bumi Indonesia.
Dan ternyata di sini, masih ada sosok yang peduli terhadap keadaan bumi Indonesia. Cintanya terhadap Indonesia diwujudkan dengan meengibarkan bendera perang terhadap produk impor.
Nah, jika anda mengaku cinta Indonesia, maka mulai detik ini, berhentilah memakai segala produk luar negeri, dan mulai mencintai segala jenis produk dalam negeri.
Si Cantik Di Balik Kesuksesan Mazda
Hal tersebut terlihat dari minat pasar yang makin sadar bahwa memiliki kendaraan pribadi begitu pentingnya untuk mengantar hingga tempat tujuan. Tak hanya sebagai transportasi antar jemput, namun, sebuah kendaraan bisa memiliki prestige yang tinggi bagi seseorang.
Pasar otomotif di Indonesia pun kian ramai dan diminati oleh pasar. Hal tersebut terbukti dengan penjualan salah satu brand otomotif yang makin tahun mengalami kenaikan
“Dari tahun 2010 sampai 2011, penjualan kami naik sekitar 46%.” Terang Astrid Ariani Wijana, Marketing Manager PT Mazda Motor Indonesia, ketika dijumpai di bilangan Jakarta Selatan.
Kota Besar Alami Peningkatan Penjualan
Tingginya minat kaum urban untuk memiliki kendaraan pribadi makin hari kian bertambah. Hal tersebut terbukti dengan tingginya tingkat pemasaran di Jakarta yang berada jauh di atas daerah lainnya.
Pertumbuhan ekonomi di beberapa daerah di Indonesia, makin menjadikan langkah penjualan otomotif menanjak sedikit demi sedikit.
Lihat saja buktinya. Setelah Jakarta, kota lain seperti Surabaya, Medan, dan beberapa daerah di Kalimantan, akhir-akhir ini mengandalakan mobil untuk bertransportasi.
Alhasil, di daerah-daerah tersebut, penjualan Mazda mengalami peningkatan sekitar 25-35% untuk salah satu produk keluaran Mazda dengan model pick up.
Apalagi menjelang mudik seperti saat ini, mobil kian diburu untuk kepentingan pulang kampung. Jelang mudik, masih banyak masyarakat yang mengandalkan mobil, daripada sarana transportasi lain, seperti pesawat, kereta, dan kapal laut.
Hal ini dikarenakan, mobil bisa memuat seluruh anggota keluarga, dan juga mampu menampung barang bawaan yang banyak, tanpa kena charge.
Foto:Dok. Pribadi
Otomotif Kian Dekat dengan Wanita
Tingginya minat masyarakat terhadap produk otomotif ini, kian menambah deretan sejumlah wanita yang berada di balik kesuksesan produk tersebut. Sebut saja, Mazda. Salah satu brand yang cukup ternama di nasional dan internasional ini mempercayakan pemasarannya bukan pada pria, namun pada wanita cantik bernama Astrid Ariani Wijana.
Sejak tahun 2006, Astrid setia dengan brand tersebut. Ia menyukai industri otomotif, karena tertantang dengan segala hal yang berbau ‘cowok’.
“Ada yang bilang kalau dunia otomotif itu cowok banget, nah di situlah saya tertantang untuk mencobanya.Ternyata otomotif bisa dijadikan sebuah karir sesuai dengan bidang yang saya geluti,” terangnya.
Astrid yang mengambil jurusan Marketing di London School of Public Relation ini, lantas tertarik bergabung dengan perusahaan otomotif. Sebelumnya, ia berkarir di PT BMW Indonesia, yang juga masih di dunia otomotif.
“Saya suka industrinya, banyak yang bilang kalau otomotif kental sama cowok.tapi ternyata tidak juga. Belakangan ini banyk juga wanita yang juga berkiprah di industri otomotif. Dan posisi mereka juga merupakan posisi-posisi kunci juga. Nggak ada gender issue di industri ini.” Terangnya.
Kian berkembangnya pertumbuhan ekonomi di Indonesia, yang menjadikan Astrid begitu semangat bahwa industri ini tak akan surut. Industri otomotif akan bangkit seiring bekembangnya ekonomi Indonesia.
“Kami yakin banyaknya pertumbuhan ekonomi ini akan merangsang pembelian. Dan otomatis akan masuk di industri otomotif dengan sendirinya. “ katanya antusias.
Cinta Jakarta
Lahir di Jakarta, membuat wanita kelahiran 6 Oktober 1978 ini cukup mengenal dengan baik ibukota Indonesia ini.
Jadi, walaupun macet dan sumpek, namun ia masih merasakan kenyamanan berada di Jakarta.
“Saya rasa Jakarta is a nice city, tapi memang perlu pembenahan di beberapa titik, dan saya rasa juga saat ini kita menuju ke arah itu. Jakarta pasti dengan sendirinya akan berkembang, tidak hanya dari tata kota, tapi juga infrastrukturnya.” Katanya mengenai tanah kelahirannya.
Mengenai karirnya, Astrid masih ingin mengembangkan brand Mazda agar semakin melekat di masyarakat Indonesia pada umumnya, khususnya kota Jakarta.
“Mudah-mudahan, akhir tahun ini, nama Mazda makin dikenal, makin banyak produk yang variatif, yang bisa memenuhi pilihan konsumen.” Katanya.
