Rabu, 11 Januari 2012

Johnnie Sugiarto Harapkan Indonesia Dilirik Dunia

Cinta membuat orang mau melakukan apa saja. Cinta juga yang menjadikan manusia semakin ingin mengetahui lebih jauh dunia yang dicintainya. Itulah yang terjadi pada Johnnie Sugiarto, Chief Executive Officer PT El John Indonesia. Karena cintanya yang dalam terhadap pariwisata Indonesia, Johnnie pun sukses mencicipi manisnya bisnis tersebut hingga detik ini.

Melihat indahnya pariwisata dan potensi yang ada di berbagai wilayah Indonesia, menggerakkan hati Johnnie Sugiarto untuk melihat lebih jauh lagi. Ia pun mulai tertarik menjajal bisnis kepariwisataan ini.

Keuletannya memperkenalkan dunia pariwisata Indonesia ternyata membuat Johnnie sukses di bidang tersebut. Kini, ia tak hanya memiliki sejumlah resort, bisnis lain yang mendukung dunia pariwisata, seperti developer dan property, institusi, hotel, multimedia sampai entertainment pun ia jajaki.

Johnnie mengepalai sejumlah resort miliknya, seperti Parai Kumala Resort&Spa Tenggarong-Kaltim, Tanjung Pesona Beach Resort, Parai Beach Resort&Spa Bangka, Hotel Wisata Palembang, Istana Pool Villas Resort&Spa, dan Parai Resort Bukittinggi.

Sedangkan untuk bidang rekreasi dan entertainment, sederet usaha miliknya, seperti. Jaguar Music Resto&Pool, Teleng Ria-Taman Hiburan Keluarga, Tirta Tapta Pemali Bangka, Parai Lake Resort&Spa Teluk Gelam-Sumsel, dan El John Executive Lounge.

Sejumlah media juga didirikannya untuk menunjang berbagai usahanya, seperti El John Radio Network dan Majalah Travel Club.

Belum puas juga, Johnnie lantas mendirikan institusi dengan nama Yayasan El John Indonesia.

Bahkan ia juga masih disibukkan dengan hal lainnya, yaitu menggagas munculnya kontes Putri Pariwisata Indonesia.

Dalam kontes kecantikan yang berada di bawah yayasannya, bernama Yayasan El John Indonesia, ia didapuk sebagai ketua.

Bertemu pria kelahiran Sungaipenuh, 3 September 1956 ini cukup sulit. Mengingat kesibukannya mengelola berbagai bisnis di dunia pariwisata. Namun, akhirnya Vibizlife berhasil juga berbincang dengannya untuk mengetahui resep sukses dalam menjalani bisnisnya yang seabrek.

“Kita ngobrolnya setelah acara saja ya,” tuturnya ketika mengetahui kehadiran Vibizlife yang ingin berbincang banyak dengannya.

Johnnie ketika itu diapit para wanita cantik yang tergabung dalam Putri Pariwisata Indonesia. Para ikon bagi dunia kepariwisataan Indonesia. Mengenakan setelan jas berwarna hitam, dan kemeja formal, ia pun meladeni setiap pewarta yang ingin berbincang dengannya.

“Banyak penyelenggaraaan kontes kecantikan lain yang hanya mengedepankan penampilan fisik dan wajah cantik saja, padahal sebetulnya mereka punya potensi lain.” Demikian alasannya ketika ditanya mengenai munculnya gagasan diadakannnya kontes Putri Pariwisata Indonesia pada tahun 2008 lalu.

Anak didiknya yang telah memenangkan kontes Putri Pariwisata lantas kembali dipoles dengan sejumlah pembekalan, agar mereka nantinya layak dijadikan public relation (PR) dalam urusan kepariwisataan.

Fokus di Pariwisata

Sebelum memulai bisnis kepariwisataan, Johnnie sempat bekerja sebagai kontraktor dan supplier. Johnnie kecil bahkan sempat membantu ayahnya berjualan rokok keliling.

Pesan sang ayah diingat benar oleh Johnnie hingga saat ini. Bahwa untuk menekuni suatu bidang, diperlukan kemampuan dan fokus terhadap bidang tersebut.

“Kalau tidak suka politik, jangan jadi politikus,” kata Johnnie menirukan perkataan sang ayah.

Lantas semakin besar, Johnnie merasa dunia pariwisatalah yang disukainya. Ia lantas ingin mengibarkan bendera pariwisata Indonesia lebih dikenal lagi di dunia internasional.

Indonesia yang memiliki potensi besar dalam bidang pariwisata, sangat disayangkan Johnnie ketika waktu itu tidak ada seorang yang bicara khusus mengenai dunia pariwisata. Semacam public relation (PR), begitu ia menyebutnya.

Untuk mengadakan sebuah kontes, ternyata dibutuhkan sebuah lisensi, agar nantinya ia mampu untuk menilai para kontestan. Lalu, ia belajar ke luar negeri pada tahun 2006-2007.

Akhirnya ia mendapatkan dua sertifikat. Dari Miss Tourism International dan Tourism International Queen. Dalam dua organisasi tersebut, Johhnie berhasil memgang lisensi sebagai Country Director untuk wilayah hukum di Indonesia.

Dari situ, ajang Putri Pariwisata pun berjalan sampai saat ini. Bahkan, salah satu putri pariwisata didikannya, Rieke Caroline berhasil melenggang hingga ke dunia internasional, dengan meraih penghargaan sebagai 1st Runner Up Miss Tourism Queen International .

"Saya Tak Punya Waktu Luang"

Menjalani seabrek bisnisnya membuat Johnnie sadar benar bahwa semua bisnisnya harus dikelola dengan maksimal.

Saat ini ia memiliki 1000 karyawan yang bekerja full time, dan 1000 karyawan paruh waktu. Karenanya, sistem kerja yang benar diperlukan untuk mengerahkan segalanya agar berjalan lancar.

“Saya tak pernah merasa kesulitan dalam bekerja. Karena semuanya saya percayakan kepada sistem. Jadi dengan sendirinya, ketika karyawan keluar masuk, sistem harus tetap berjalan.” Tutur pria yang menyukai semua jenis kuliner Indonesia tersebut.

Dengan segudang kesibukannya, Johnnie mengaku tak memiliki waktu luang sedikit pun untuk menikmati hobi atau berkumpul dengan keluarga di waktu senggang. Karena itu, seluruh anggota keluarganya dikerahkan untuk membantunya terjun ke dunia bisnis.

“ Saya tak punya waktu luang. Jadi ketika ada sedikit saja waktu luang, saya melakukan pembekalan untuk karyawan dan Putri-Putri Pariwisata. Makanya anak dan menantu saya ikut berbisnis. Istri saya pun demikian. Jadi waktu saya tak terbuang percuma. Saya tetap bisa berkumpul dengan keluarga. “ katanya.

Biasanya Johnnie menyiasatinya dengan mengajak wisata kuliner seluruh anggota keluarganya usai jam kantor.

Di mata keluarganya, ia adalah ayah yang terbaik. Karenanya, kedua anak Johnnie begitu sayang pada sosok pria ramah tersebut.

“Apa saja yang saya pesan di restoran, pasti tidak pernah di complain anak saya. Katanya pilihan papa pasti yang terbaik,” tuturnya menirukan perkataan anaknya.

Mengejar Kesuksesan

Setiap tetes keringat itu akhirnya mampu mendulang sukses. Johnnie kerap mendapatkan sejumlah penghargaan. Diantaranya meraih The Most Exciting Award dari Gubernur Jawa Timur.

Berbagai penghargaan lainnya juga ia peroleh dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia untuk kategori industri/perseorangan atas usaha EL JOHN Indonesia dalam menyukseskan program tahun kunjungan wisata Visit Indonesia Year 2008.

Ia kini juga masih sempat menjabat sebagai Ketua Umum ICBC (Indonesia China Business Council) Bangka-Belitung.

“Bagi saya, dalam hidup ini yang terpenting adalah bagaimana kita bisa bermanfaat bagi orang lain Itulah yang menjadi filosofi saya,” terangnya.

Karena itu, Johnnie hingga saat ini tak pernah sedikit pun berhenti untuk berkarya dan berinovasi. Ia selalu memikirkan bagaimana menciptakan produk baru, kegiatan baru, yang belum banyak dipikirkan orang.

“Kadang hal-hal simple yang tak terpikir orang itu bisa jadi inovasi untuk sebuah bisnis," kata Johnnie.

Sampai saat ini, Johhnie belum juga puas dengan apa yang telah dicapainya. Ditanya definisi sukses, Johnnie merasa masih banyak hal yang ingin ia raih dalam hidup.

“Saya tidak boleh tepuk dada, bahwa saya sudah hebat dan sudah sukses. Yang lebih hebat masih banyak. Jadi saya mesti harus kejar terus,” katanya.

Perbincangan kami pun akhirnya usai. Sosok Johnnie Sugiarto memberikan saya sebuah kesimpulan, bahwa hidup harus dilalui dengan berkarya sebaik mungkin.

Bagaimana dengan anda?


Metamorfosa Frederica Widyasari Dewi

Menjajal perputaran pasar modal menjadi hal baru yang nikmat bagi seorang Frederica Widyasari Dewi. Karirnya naik setapak demi setapak. Saat ini, Kiki, panggilan akrabnya menjabat sebagai Direktur Pengembangan di Bursa Efek Indonesia.

Wanita ini begitu ayu. Tak menyangka bahwa dirinya dekat dengan dunia pasar modal Indonesia. Tak heran, karena ia sempat digelari Diajeng Jogjakarta 1994 dan Putri Ayu Jogjakarta pada tahun 1995.

Hidupnya adalah sebuah metamorfosa. Kiki yang sempat mencicipi dunia entertainment, dinilai banyak orang lebih pantas berada di area nya ketika itu. Geliat sinteron, model, dan segala hal berbau hiburan dikombinasikan dengan perilakunya yang lemah lembut, rasanya lebih pas untuknya berkarir di sana.

Tetapi Kiki punya cita-cita lain. Ia ingin membuat Indonesia selangkah lebih maju di dunia pasar modal. Karena kini, masyarakat yang tertarik untuk menjadi investor di pasar saham Indonesia.

“ Kalau pasar modal bisa jadi bagian masyarakat Indonesia, betapa baiknya. Karena kesejahteraan masyarakat bisa terjadi dari dua hal. Pertama, income, yang kedua investasi, “ tuturnya, yang melihat takjub instrumen investasi di Indonesia yang terus meningkat.


Ingin pasar modal dikenal lebih luas lagi

Sebelum mencicipi dunia pasar saham, Kiki lebih dikenal sebagai artis. Tahun 90-an, ia kerap membintangi sinetron kolosal, seperti Angling Dharma. Belum lagi sinetron lain, seperti Doaku Harapanku, Panji Manusia Milenium, dan sejumlah tawaran iklan ketika itu.

Namun, menjadi seorang entertainer, tak membuat Kiki puas. Ia ingin menapaki karir lain yang sesuai dengan pendidikan yang diambilnya ketika kuliah.

Usai merampungkan studinya di Fakultas Ekonomi, Universitas Gajah Mada, Kiki lalu melanjutkan S 2 nya ke Universitas Fresno di California, AS, pada tahun 2004.

Selama kuliah di Amerika, ternyata memberikan Kiki sebuah inspirasi baru. Jika di Indonesia, pasar modal bisa dikenal dan dipelajari dengan baik, tentu akan meningkatkan kualitas perekonomian di Indonesia.

Dari hal tersebut, Kiki pun yakin bahwa pasar modal bisa berkembang pesat di Indonesia suatu hari nanti.

“Saya tertarik untuk terjun ke pasar modal semenjak tinggal di Amerika. Di sana, obrolan sehari-harinya itu tentang pergerakan harga saham, “ kata wanita berparas cantik tersebut.

Ia pun melihat perbedaan bahan perbincangan di negeri adidaya tersebut, jika dibandingkan dengan di Indonesia.

“Kalau di sini, obrolan setiap pagi nya lain lagi. Ngomongin gosip artis,” katanya sambil tertawa.

Kiki lalu memiliki satu keinginan bahwa Indonesia nantinya bisa semaju Amerika. Terlebih dalam persoalan pasar modal.

“Saya melihat di Indonesia perkembangan pasar modal sangat besar. Pergerakan indeks dan bursa di Indonesia juga merupakan salah satu yang tertinggi di dunia. Nah, ini merupakan salah satu potensi besar dan baik jika dikembangkan di Indonesia,” kata wanita kelahiran 28 November 1976 itu.

Ia juga ingin ilmu ekonominya terpakai dalam satu pekerjaan yang jelas. “ Bidang yang saya tekuni adalah ilmu ekonomi, bisnis, keuangan, dan pasar modal. Saya punya keinginan suatu saat ingin bekerja di lembaga yang memiliki makna keberadaan yang signifikan dengan jenjang karir yang jelas,” terangnya.

Setalah lulus S2, ia sempat menjadi dosen di Universitas Indonesia, Atma Jaya, dan STEKPI. Pada tahun 2004, Kiki pun iseng melamar ke Bursa Efek Indonesia (BEI) yang waktu itu dikenal dengan nama Bursa Efek Jakarta (BEJ). Awalnya ia masuk sebagai Corporate Secretary.

Menjabat sebagai Corporate Secretary membuat Kiki ketika itu lebih dikenal sebagai bidadari BEI.

Begitu cantiknya kemampuan Kiki dalam dunia pasar saham. Ia mampu melesatkan karirnya menjadi Direktur Pengembangan Usaha di BEI pada tahun 2009 sampai saat ini.

Berbagai terobosan pun ia coba tawarkan. Mulai dari kursus pasar modal yang didirikan di Jakarta dan Surabaya, memperkenalkan teknologi online trading syariah, membuka pusat informasi pasar modal, hingga rencana terbarunya tahun depan, untuk mengkampanyekan gerakan cinta pasar modal.

Gerakan tersebut merupakan salah satu kampanye yang dilakukan BEI untuk memperkenalkan pasar modal ke seluruh lapisan masyarakat.

Dekat dengan Keluarga

Lembut, lemah gemulai, pintar, dan tentu saja cerdik dalam mengatur keuangan. Itulah Kiki. Ia juga ingin di Indonesia, semua orang bisa mengatur keuangan dengan bijak, agar nantinya kehidupannya di masa tua bisa terjamin.

“Saya lihat di Indonesia, orang pintar hanya di sekolah, tetapi pas membicarakan perihal me-manage uang, dia tidak mengerti. Padahal penting sekali untuk menyimpan uang yang telah ia dapat, lalu ia simpan untuk investasi ke depan,” tuturnya.

Mengenai kehidupan pribadinya, ia merupakan sosok yang amat dekat dengan keluarga. Kiki sangatlah hormat terhadap kedua orangtuanya.

“Betapa besar cinta kasih orangtua kepada saya. Mereka telah berkorban sepenuh hati untuk bisa menyekolahkan saya. Jadi tidak ada alasan saya untuk berbuat hal yang bisa menyakiti hati mereka,” terangnya.

Kiki pun lalu menakar sebuah kesuksesan jika telah memberikan banyak manfaat bagi orang banyak. Sudah merasa sukses Ki?

“Saya rasa untuk sukses masih belum ya. Kalau kita sudah merasa sukses, kita akan berada di comfort zone, dan berhenti meningkatkan diri, “ katanya.

Metamorfosa yang cukup membanggakan ya. Pencapaian karir Kiki Widyasari kiranya bisa memberikan inspirasi bagi kita untuk bisa meraih cita- cita setinggi mungkin, tanpa melupakan orang yang telah berjasa membesarkan kita, yaitu keluarga.

Adrie Nurmianto Subono Learning By Doing


Adrie Nurmianto Subono atau yang lebih dikenal Adrie Subono adalah salah seorang promotor kawakan di Indonesia. Pembawaannya yang tegas berbuah manis pada kerja kerasnya membesarkan nama Java Musikindo.

Di sini promotor bertanggung jawab terhadap sponsor, pemberi ijin, artis, dan tentunya penonton. “Ketika kita bekerja secara professional dan baik, insyaallah kita akan mendapatkan pekerjaan tersebut.

Hingga saat ini, hanya dengan 8 anak buah, Adrie mampu mengusung penyanyi dalam hingga mancanegara.

Nama Adrie Soebono pasti sudah tak asing lagi di telinga anda. Promotor kelas kakap ini memulai bisnis di dunia musik semenjak tahun 1994. Ketika itu, Java Musikindo berhasil membawa Saigon Kick, band yang sedang kondang saat itu.


Sukses dengan Saigon Kick, tahun 1995 Java mendatangkan Supergroove. Dilanjutkan dengan Mr.Big, Boyzone, Westlife, Alannis Morissette, The Coors, Mariah Carey, Hoobastank, dan masih banyak lagi.

Musisi tanah air yang diusung Java juga tak sedikit, diantaranya Gigi, Oppie&BOP, Nugie, Pas Band, Netral, dan banyak lagi.


Tak putus asa walau sempat putus sekolah


Siapa yang percaya, suami Chrisye Subono ini hanya mengenyam pendidikan hingga kelas 2 sebuah SMA di Jerman.

Tahun 1970, ia berangkat ke Jerman. Delapan tahun di Jerman, Adrie ikut dengan pamannya. Ia ingin sekolah di sana. Namun, akibat kegemarannya berkelahi, ia harus keluar masuk dari sekolah yang satu ke sekolah yang lainnya.

Di tahun 1978, ia pun kembali ke Indonasia , lantaran kenakalannya yang membuatnya menginap di sebuah penjara di Jerman. Sepulang dari sana, Adrie tidak melanjutkan pendidikannya.

Ia lalu mulai bekerja. Kenakalannya saat remaja tak menjadikannya patah semangat. Dalam bekerja, ternyata Adrie cukup serius. Dan ia akhirnya berhasil untuk menekuni bidang bisnis. Ia sempat bisnis di bidang perkapalan hingga property.

Lalu Adrie bertemu dengan Chrisye Subono, seorang model cantik yang cukup nge top pada masanya. Ia pun menikah dengan Chrisye.

Learning by Doing


Sebelum dekat dengan dunia music, Adrie ialah seorang pengusaha. 15 tahun lalu, ia sempat bergelut di dunia bisnis perkapalan hingga property. Traveling ke luar negeri pun kerap dilakoninya.

Ketika ke luar negeri, anak ke 2 dari 5 bersaudara ini sering menikmati konser music. Dan kecintaannya terhadap music rock n roll inilah yang menjadikannya meninggalkan dunia bisnis yang telah banyak mendatangkan pundi-pundi rupiah.

Di fase ini, Adrie ingin hidup untuk bekerja. Hobinya menikamti music membuatnya terinspirasi untuk mendirikan sebuah tempat, dimana ia bisa mendatangkan sejumlah artis “Bisnis promotor adalah bisnis besar, tidak pernah ada matinya. Karena seorang artis akan memerlukan seorang promotor, atau panitia untuk mengadakan konser.” Katanya.

Maka uang tabungan hasil jerih payahnya ia simpan. Bersama beberapa rekannya, seperti Rinny Noor. Malik Syafei, dan Imran Amir, Adrie pun mendirikan Java Musikindo.

Saat itu, Java Musikindo bukan merupakan satu-satunya promotor di Jakarta. Tetapi, akibat jarangnya para promotor yang mendatangkan artis, maka nama Java pun mulai dikenal. “Disitu saya lihat kalau kita bekerja dengan niat dan maksimal, maka klien akan datang.

Kesulitan di awal sempat membuatnya stress. Namun, dengan bantuan istri, dan keluarga yang selalu mendukungnya, Adrie pun tak pernah lelah untuk belajar. “ Sulit waktu awal, karena nggak ngerti apa-apa. Tapi saya sangat percaya prinsip learning by doing. Dan saya yakin ini pekerjaan yang menguntungkan, makanya saya pelajari.” Tuturnya.

Saat menggelar Konser Saigon Kick, ternyata tak member hasil yang memuaskan secara financial. “Kondisi ini diperburuk lagi lewat komentar kolega-kolega saya, yang kebanyakan mempertanyakan motivasi saya sebenarnya. Sebelumnya ketika mereka tahu saya ingin terjun ke dunia promotor, mereka menganggap keputusan saya gila. Tapi saya cuek.” Jelasnya dikutip dari buku Java Musikindo “ Wow”.

Kemarin sejak pukul 7 pagi sekitar 200 orang rela mengantri untuk membeli tiket Trivium yang akan manggung Januari tahun depan. Adrie berusaha untuk menertibkan antrian sebisa mungkin. Ia selalu berusaha untuk berkomunikasi dengan mereka. “Dan orangtua mereka maunya memperbolehkan anak-anak mereka nonton konser kalau yang bikin Java. Nah, buat saya itu kan jadi beban lagi. Tapi alhamdulilah itulah kepercayaan yang tidak bisa kita dapatkan secara langsung.

Keluarga adalah yang utama

Di samping sebagai promotor music, Adrie juga sering diundang sebagai pembicara dalam seminar.

Sibuk dengan seabrek kegiatannya, Adrie pun tak menyia-nyiakan waktu untuk berjumpa dengan keluarga. “Saya tidak mau diperbudak oleh uang atau pekerjaan. Saya selalu mengutamakan keluarga.” Ungkap keponakan BJ Habibie tersebut.

Melanie Subono, Christy Subono, dan Adrian Subono merupakan sosok anak-anak yang mmeberi semangat Adrie dalam bekerja.

Setiap hari, ia berusaha untuk pulang kerumah sebelum jam 6 sore. Lalu di hari minggu, ia memiliki ritual keluarga yang unik. Ketiga anak Adrie diwajibkan untuk berkumpul, dan tidur di kamar ayah dan ibu mereka. Suasana kebersamaan membuatnya selalu rindu akan kehadiran keluarganya.

Keyakinan, Komitmen, dan Optimisme

Adrie sadar untuk mendapatkan satu konser yang memuaskan, membutuhkan dana yang tak sedikit. “Saya memperlakukan Java Musikino sebagai perusahaan saya yang lain. Pakem yang ditanamkan sama, yaitu tak ada bisnis yang mendatangkan keuntungan dalam jangka waktu yang sangat pendek. Semuanya butuh proses, keyakinan, kesabaran, dan optimisme.” Jelasnya.

Ketiga komponen itulah yang membawanya tetap eksis dalam menggelar konser-konser, walau tanpa dukungan sponsor.

“Saya sendiri kerap menebarkan virus optimisme ini di mana saja ada kesempatan menyampaikannya.” Ujarnya.

Tak heran keyakinan, komitmen, dan optimisme Adrie kerap menjadi dorongan anak muda untuk terus berkarya.


Titik Balik Nadine Chandrawinata


Tergesa-gesa saya melangkahkan kaki menuju Hampton’s Park Apartment di wilayah Jakarta Selatan. Sungguh lelah membelah kemacetan Jakarta siang itu. Alhasil, saya sedikit terlambat sampai di sana. Wajah saya tak karuan, membayangkan Nadine Chandrawinata yang marah melihat saya datang terlambat.

Sebelumnya, saya mengirimkan sms kepadanya mengenai keterlambatan saya. Ternyata, ia masih membalas sms saya. Hati saya sedikit lega.

Sampai di Gluck salon, tempat kami mengadakan janji, Nadine sudah menunggu saya di balik pintu.

Tak ada kemarahan di balik raut wajahnya. Ia terus tersenyum ramah. Bahkan, ia memaklumi saya terlambat datang, karena kemacetan Jakarta yang begitu parahnya.

“Daerah sini memang macet terus,” katanya mendinginkan hati saya yang sempat khawatir kena damprat.

Mengenakan white shirt, dipadu dengan cropped puff jacket hitam, dan skinny jeans, Nadine tampak begitu casual. Wajahnya tampak begitu ekspersif dengan pulasan make up warna bronze. Dengan rambut panjang yang dibiarkan tergerai, aura kecantikannya terpancar begitu saja.

Di salonnya yang kecil, namun cozy itu, kami berbincang santai tentang karirnya di dunia entertainment.

Ajang pembuktian diri

Karir Nadine diawali dari jalur modeling. Saat menapaki usia 17 tahun, ia mulai rajin mengikuti casting iklan.

Masuk kancah modeling, rupanya merupakan ajang pembuktian diri bagi Nadine, karena ia menolak dicap cuek dan tomboy oleh teman-teman di sekolahnya.

Memiliki saudara laki-laki sedikit banyak memengaruhi gaya Nadine. Ia tak pernah menyentuh boneka. Nadine lebih memilih untuk memanjat pohon, bermain mobil-mobilan, serta perang-perangan.

“Teman-temanku banyak yang mengejek. Katanya aku kalau jalan seperti cowok. Terus, ditantangin sama teman-teman, bisa nggak jadi model. Dari situ aku panas, aku terpicu untuk ikutan,” kata gadis kelahiran Hannover, Jerman, 8 Mei 1984 tersebut.

Menjajal casting sebuah iklan menjadi titik balik seorang Nadine. Berbagai kegiatan maskulin yang biasa digelutinya dalam keseharian, pelan-pelan mulai ditinggalkan.

Mencoba ikut casting, membuatnya harus merelakan jam mainnya setiap hari. Kegiatan yang biasa diisi dengan hang out, ia lantas memfokuskan diri untuk membuktikan ejekan teman-temannya.

“Lewat pembuktian itu, aku fokuskan dulu sebentar untuk membuktikan celetukan yang nggak enak dari teman-teman, “ katanya.

Ternyata dari sini, tawaran terus berdatangan. Mulai dari main film, sinetron hingga ikut kontes Puteri Indonesia.

Keikut sertaannya menuju catwalk Puteri Indonesia tidaklah disengaja. Awalnya, sang ayah Chandrawinata mendaftarkannya dengan alasan melalui ajang ini, Nadine bisa go international. Tahun 2005, ia dinobatkan sebagai Puteri Indonesia.

“Di Puteri Indonesia, kegiatannya full banget, aku jadi merasa kerja beneran. Ada tanggung jawab menyandang gelar itu, ” tuturnya.

Lewat kontes tersebut, Nadine lalu berhasil go international untuk mengikuti ajang Miss Universe. Keikutsertaannya sempat menuai kritis pedas, karena ketika memperkenalkan Indonesia, ia salah membuat statement dalam bahasa Inggris.

Namun dibalik itu, Nadine juga menuai pujian karena berhasil menang dengan menyandang predikat Putri Persahabatan dan juara kedua untuk Budaya Nasional Terbaik.

Melalui ajang tersebut, Nadine mengaku banyak belajar hal baru. Yaitu tentang proses pendewasaan. Bagaimana berbicara dengan klien, bahasa tubuh yang baik, kemandirian, serta tidak boleh mengeluh dalam hal apapun.

Peluangnya untuk meraup ilmu di dunia entertainment tak disia-siakannya. Melalui pintu tersebut, Nadine lantas laris membintangi berbagai film, sinetron, dan menggeluti hal seni lainnya, seperti melukis dan menjajal teater.

“Pada dasarnya aku orangnya suka seni. Karena itu, aku selalu penasaran dengan hal-hal berbau seni, “ katanya.

Ketika memiliki waktu luang, ia tak menyia-nyiakannya. Nadine biasanya langsung pergi keluar kota untuk refreshing.

Bukan shopping atau travelling, namun ia lebih memilih melakukan extreme sport, seperti diving.

Hobinya yang satu ini tak bisa diganggu gugat. Jika sudah demikian, Nadine bisa mengajukan cuti hingga tiga hari sampai seminggu untuk menyelami berbagai laut di Ibu Pertiwi ini. Hobi tersebut juga membuatnya diganjar sebagai duta ekowisata.

Puas dengan semua hal di dunia seni dan olahraga, kini Nadine masih penasaran dengan bisnis. Ia pun menjajal berbisnis salon bersama tante nya. Gluck salon, nama tempat tersebut, telah berdiri sejak 2 tahun silam. Nadine terjun menangani semuanya. Mulai dari merancang, menata dekorasi salon, hingga menginterview langsung para pegawai.

Bermasalah dengan bahasa

Menghabiskan masa balita di Jerman, lalu pindah ke Indonesia bukanlah perosalan mudah. Segala hal mulai dari penyesuaian tempat, cuaca, hingga kesulitan berkomunikasi dengan bahasa Indonesia merupakan warna-warni masa kecil Nadine.

“Aku butuh waktu lama untuk mengerti apa yang dibicarakan oleh guruku,“ kenangnya.

Duduk di bangku kelas 1 SD BPK Penabur, merupakan masa penyesuaian yang panjang. Sampai-sampai, ia sempat salah memakai seragam. Akibatnya, Nadine pun kena hukuman.

Namun, seiring berjalannya waktu, Nadine bisa menguasai bahasa Indonesia dengan baik, dan bergaul dengan teman-temannya di sekolah.

Berada di bagku SD hingga SMP merupakan sebuah masa pengenalan diri bagi Nadine. Beranjak SMA, Nadine mulai bangga menjadi seorang wanita.

“Aku lebih mengenal dunia entertaintment, jadi lebih feminine,” kata pengagum Mother Teresa tersebut.

Sukses membuat orang nyaman

Hari berangsur sore. Mendung pun mulai menyelimuti hari yang tadi cerah. Sebelum beranjak, saya pun menanyakan arti kesuksesan bagi dirinya.

Nadine selalu bersujud syukur dengan apa yang telah ia dapatkan. Kesuksesan di matanya merupakan sebuah proses, bukan hasil akhir.

Nadine juga merasa dirinya berharga dan sukses ketika bisa membuat orang lain merasa nyaman di dekatnya.

“Kita tidak membawa apa-apa ketika datang ke dunia ini. Ketika meninggalkan dunia, kita juga dengan tangan kosong. Tetapi yang kita tinggalkan hanya jasa dan nama kita. Apakah kita berpengaruh baik buat diri sendiri dan orang lain. Karena itu, aku sangat merasa sukses, ketika bisa membuat orang lain merasa nyaman berada di dekatku,” jelasnya.

Nyaman memang berbincang dan berada di dekat dengannya. Jika saya lupa waktu, bisa-bisa saya ngobrol 24 jam dengan Duta Perfect World tersebut.

Dalam perbincangan kami, Nadine menorehkan pesan untuk Anda yang berminat menekuni bidang nya.

Tidak pernah mengikuti orang lain, dan jangan takut untuk melangkah demi sebuah perubahan merupakan sedikit pesan Nadine untuk anda yang ingin mengikuti jejaknya.

Perbincangan kami pun akhirnya berakhir juga. Senyum ramah Nadine masih mengembang di bibirnya. Saya lalu mohon pamit untuk mengarungi padatnya jalanan ibukota.

Obrolan santai kami, memberikan saya begitu banyak pengetahuan. Nadine yang pernah dicap buruk ketika ajang Miss Universe tak saya dapatkan ketika itu. Ia cukup cantik, smart dan santun, tipikal khas wanita Indonesia zaman sekarang.

Hal itu dibuktikan dari berbagai hal yang kami perbincangkan, bisa ditanggapinya dengan santai dan bermakna.

Dua Sisi DJ Blanco


Dari sekedar hobi, Benyamin Rahyanto Sarmanella memperluas lingkup karirnya. Ia melahap karir di dunia music dan media sekaligus. Bagaikan sekeping mata uang, yang berbeda sisinya. Itulah kehidupannya.

Tak kenal dengan nama Benyamin Rahyanto Sarmanella? Bagaimana dengan DJ Blanco? Dua nama tersebut berasal dari satu orang yang sama, lho. Pasti anda tak asing lagi bukan dengannya. Ia adalah salah satu DJ terkemuka di Indonesia.

Kemegahan dunia DJ ditelusuri pria yang akrab disapa Benny itu, dan kini ia pun merambah keahliannya di bidang marketing. Berbanding terbalik dengan gemerlapnya dunia malam, siang hari Benny melakoni pekerjaan sebagai Marketing&Communication Manager Global TV.

Ketika bertandang ke kantornya yang terletak di wilayah Kuningan, Jakarta Selatan, Benny tampak buru-buru, karena harus menyelesaikan pekerjaannya yang sudah menumpuk.

Di salah satu ruangan meeting, kami melakukan obrolan santai seputar dunia karirnya yang dimulai dari hobi tersebut.

Dari party ke party

Dari kecil, Benny sudah memperlihatkan bakatnya menjadi seorang DJ. Bukan gemar mendengarkan musik, melainkan selalu asyik sendiri dengan trend mainan yang ketika itu sedang booming. Sebut saja, video game atau tamiya.

“Saya sangat suka dengan model-model mainan terbaru. Suka ngutak-ngutik dan juga hobi banget nonton TV,” ceritanya.

Hobi mengutak-atik ini lalu terbawa hingga remaja. Sebuah piringan hitam pun menjadi hobi baru untuk di utak-atik.

Mixing berbagai musik dan lagu pun dilakoninya. Dari situ, muncullah keinginan untuk bergelut di dunia gemerlap.

“Waktu itu, saya belum punya alatnya. Masih sering nebeng di rumah teman 'tongkrongan',” katanya.


Gemerlap dunia malam dilalui Benny tanpa sengaja. Hobinya bergaul dengan teman-temannya semasa kuliah di Mount Vernon College, USA menimbulkan suatu inspirasi untuk ''nyemplung di dunia gemerlap.

Ia semakin mengenal dunia tersebut, yang dirasanya asyik dan penuh dengan kesenangan. Dari sana, ia menerima tawaran untuk nge-DJ di sebuah acara ulang tahun.

Dari party satu ke party lainnya, Benny pun laris ditanggap nge-DJ.

“Masih event kecil-kecilan sih,” katanya.

Bukan hanya nge-DJ, konflik yang terjadi di Indonesia pada tahun 1997-1998 membuat kedua orangtua Benny panik. Akhirnya, ia disarankan untuk tinggal sementara di USA.

Selama di negeri orang, Benny bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Disamping sebagai DJ, ia juga bekerja sebagai Buyer’s Assistant di Showhomes Of America, McLean, Virginia, U.S.A dari bulan Agustus 1997 hingga Desember 1998.

Tahun 1999, Benny kembali melamar pekerjaan sebagai Marketing Assistant di Universal Vision, Arlington, Virginia, U.S.A selama setahun.

Tahun 1999, paspor nya habis. Terpaksa Benny harus kembali ke Indonesia. Ketika itu, ia belum memiliki pekerjaan tetap di Indonesia, sehingga ia rajin menerima tawaran nge-DJ.

Memiliki gelar Master of Bussiness Administration in General and International Business, seharsunya membuatnya tak kesulitan untuk melamar pekerjaaan di Indonesia.

Namun, setibanya di Indonesia, dia malah memilih untuk melakoni kembali pekerjaannya sebagai DJ.

Di tahun 2000, Benny bertemu dengan sahabatnya dari SD, yaitu Mutia Kasim. Mutia lantas mengajaknya untuk bergabung ke Hardorck FM, sebuah radio di Jakarta, tempatnya bekerja.

Di sana, dia menjabat sebagai Advertising and Promotions Executive selama setahun.

Benny lalu menjadwalkan sendiri waktunya. Weekend, dia tetap menerima tawaran sebagai DJ, sementara hari biasa, dia bekerja di radio.

“Waktu itu saya berpikir, saya tidak akan bisa terus-terusan menjadi DJ. Mungkin sekarang nge-top, tetapi 10 tahun lagi, pasti akan muncul DJ-DJ baru.

Istri presenter Indy Barends ini pun langsung jatuh cinta pada media. Karirnya terus melebar tak hanya di radio, tetapi juga majalah, dan televisi.

“Saya ingin mempelajari media secara lengkap. Dari media cetak sampai elektronik. Akhirnya malah ketagihan sampai sekarang, “ tuturnya.

Jalin Networking

Menjalin relasi adalah satu hal yang wajib dijalankan dalam hal apapun menurut Benny.

Dari pekerjaannya sebagai DJ, Benny sadar, relasi begitu penting. Karena itu, ia selalu menjalin relasi dengan baik kepada siapa saja. Baik itu teman ataupun klien.

Ketika ia bekerja di media, hal tersebut menjadi kebiasaan yang positif. Dari terjalinnya relasi ini, pekerjaan Benny yang menuntut untuk selalu dekat dengan banyak orang pun menjadi sangat terbantu akibat kedekatannya dengan banyak orang.

“Pekerjaan saya sebagai DJ sangat membantu ketika saya menjadi marketing. Para opinion leader, biasanya senang ngumpul pada saat weekend, Jumat dan Sabtu malam. Akhirnya saya bisa bertemu klien saya justu pas hari weekend, dan ngobrol nya jadi enak, Networkingnya jadi sangat membantu,” katanya.

Di Global TV sekarang, Benny mengepalai dua divisi, yaitu event dan marchandising. Di divisi tersebut, Benny memiliki 10 anak buah.

Ingin karir lebih cemerlang

“Saya masih belum merasa sukses dalam karir," demikian Benny menjawab pertanyaan yang saya ajukan tentang definisi kesuksesannya.

10 tahun berada di industri media, membuat Benny ingin mencoba karir baru lagi.

“Saya merasa sudah memiliki cukup banyak networking dan koneksi yang baik. Saya kepikirain untuk membuka usaha. Tetapi belum punya rencana yang matang, “ katanya tentang rencananya ke depan.

Filososi yang selalu dipegangnya, adalah selalu semangat dan positif thinking.

“Apapun yang terjadi jangan berpikir secara buruknya. Pada saat kita berpikir negative, semangat kita akan turun. Tetapi pada saat kita berpikir positif, semangat kita akan kembali muncul. Dan jangan pernah lari dari masalah,” demikian tips nya.

Di balik seabrek aktivitasnya, Benny selalu mengatur waktu untuk berjumpa dengan keluarganya. Sekedar menemani anaknya menonton acara kesukaannya, seperti Ultraman atau Star Wars menjadi kebiasaan menyenangkan baginya.

Ia dan sang istri selalu mengatur waktu untuk bersama dengan keluarga. Jadwalnya yang seringkali bertabrakan dengan jadwal syuting istrinya, membuatnya kembali harus menyesuaikan jadwal, mereka memiliki waktu untuk bersenang-senang dengan kedua anaknya.

“Kalau sudah bentrok, ya terpaksa minta bantuan orangtua,” katanya yang tak mau menomor duakan keluarga.

Itulah Benny. Si DJ yang populer itu. Kehidupannya bagai dua sisi mata uang. Ia mampu mengimbangi gemerlapnya dunia malam, dengan pekerjaan ekstra dinamis yang dilakoninya di siang hari, serta menjaga keharmonisan rumah tangganya.

Amy Atmanto: Kesuksesan Adalah Berbagi Kepada Sesama

Karir yang cemerlang dan keluarga yang harmonis merupakan kebahagiaan tersendiri bagi desainer Amy Atmanto. Di masa sulit seperti saat ini, Amy malah melebarkan target marketnya hingga ke negeri tetangga, seperti Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura. Sukses merancang busana kebaya, Amy pun melebarkan sayapnya lewat mengajar payet gratis untuk kaum dhuafa. Karyanya memang telah dikenal oleh pecinta kebaya klasik elegan di dalam dan luar negeri. Miss Universe, Riyo Mori, sempat dibuatkan kebaya bertabur kristal Swarovski. Dari dalam negeri, sudah tak terhitung wanita kelas atas yang memakai karyanya, diantaranya Yenny Wahid, Nadine Chandrawinata, dan masih banyak lagi.

Koleksi kebayanya terkenal dengan rancangan yang elegan, charming, glamour, dan berkarakter. “Saya begitu bahagia melihat wanita bisa tampil cantik dan percaya diri dengan apa yang ia kenakan, karena tidak ada wanita yang tidak cantik, yang ada hanyalah wanita yang tidak tahu bagaimana membuat dirinya menjadi cantik.” Ujarnya. ketika dijumpai di Gedung Smesco, Jakarta Selatan.


Pemilik 4 line fashion bertajuk Royal Sulam (kebaya masterpiece), Royal Kaftan (Luxury Moslem Wear), Victoria Couture (Party Dress), dan Morocco (Moslem Wear) ini juga sempat menjabat sebagai sebagai Brand Ambassador & Private Partner Swarovski Crystal Indonesia.

Ia juga pernah memperoleh penghargaan dari Kementerian Budaya dan Pariwisata untuk kategori tokoh yang menyukseskan Visit Indonesia Year 2008 kategori pelestarian asset budaya bangsa. Selain itu, Amy juga menjadi ikon Blackberry Indosat untuk kategori bisnis. Ia pernah menjadi ketua IPKI (Ikatan Perancang kebaya Indonesia), dan menjadi Ketua Juri Kartini Award 2009 piala Ibu Ani Yudhoyono.

Kesuksesan yang diraihnya menurutnya ialah karunia Tuhan yang harus senantiasa disyukuri dan dibagi kepada orang lain. “Sekarang kegiatan saya membuat program mengajar gratis untuk kaum dhuafa dan tuna rungu, agar mereka memiliki skill.” Tutur wanita yang dijuluki masterpiece kebaya tersebut.

Kreatif dan inovatif dari kecil

Ketertarikan Amy pada dunia fashion sudah terlihat semenjak sekolah. Hobi menjahit telah dilakoninya sejak usia 13 tahun.

Sewaktu bersekolah di SMP 73, Tebet, murid-murid di sekolahnya ditugaskan untuk membuat piyama. Teman-teman lainnya membuat piyama klasik, dengan model satu setel atasan lengan panjang dan celana panjang.

Amy yang kreatif lantas membuat piyama sendiri. Ia mendesain piyamanya dengan bahan sutera mengenakan aksen renda dan tali spagetthi. Amy ngotot tidak mau membuat piyama yang sama dengan teman-temannya. “ Menurut saya, itu adalah piyama saya, saya mau desainnya seperti itu.” Ungkapnya.

Karena kejadian tersebut, ia ditertawakan teman-teman sekelasnya, Ia pun kerap menjadi bahan ledekan teman-temannya. Akibatnya, istri Atmanto tersebut tak mendapatkan nilai dari pelajaran tata busananya karena ia tak mau membuat piyama dengan desain yang klasik.

Siapa sangka, sikap keras kepalanya tersebut menjadikannya sesukses sekarang. Lulus SMP, ia meneruskan sekolah ke SMA 3, Jakarta.


Ketika duduk di bangku kelas 2, Amy mendapat beasiswa dari ASS (America Self Services) di Cost Holbert Senior High School, Australia selama dua tahun.


Tahun 1989, Amy lulus SMA. Ia pun memilih untuk kuliah di Akademi Sekretaris Tarakanita. Akibat IQ nya yang selalu di atas rata-rata, lagi-lagi Amy mendapatkan beasiswa untuk meneruskan pendidikan di University of Technology Sydney jurusan Communication and Law Business.

Mengenyam pendidikan di Jurusan Komunikasi ternyata tak membuatnya puas. Karena disana, ia tidak mendapatkan ilmu fashion. Meski mendapatkan cum laude di jurusan ilmu komunikasi, Amy tetap mengambil summer school di sebuah institut di Sidney jurusan fashion. Di sana, ia merasa mendapatkan kepuasan dengan kursus menjahit yang telah lama diidam-idamkannya.

Lulus kuliah, Amy kembali ke Indonesia. Ia sempat menjadi reporter di RCTI. Amy juga pernah menjajal menjadi Coorporate Comunication Head di sebuah rumah produksi.


Tahun 1997, ia tertarik untuk menjadi konsultan part time bidang yang bergerak di bidang business plan. Di sana, Amy bertugas untuk merancang bisnis untuk orang-orang yang mau mengembangkan bisnis di Indonesia.


Berkarir tanpa melupakan keluarga

Sebelum menjadi desainer, Amy sukses berkarir di lingkup komunikasi. Ia pernah ditanya oleh suami mengenai keinginannya untuk bekerja. “Saya bilang waktu itu, saya ingin utamakan keluarga. Akhirnya saya membuka butik ini.” Katanya. Dan pada tahun 2000, ia mulai merancang kebaya.

Usaha yang dijalaninya selama 5 tahun pun berkembang pesat. Saat ini ia memiliki 98 orang karyawan, termasuk outsourcing.

Untuk me-manage para karyawannya, ia menerapkan sepenuhnya pada system. “Sistem itu harus diterapkan supaya ada atau tanpa saya itu bisa tetap jalan prosesnya.” Tuturnya.

Dengan demikian, Amy tak pernah melewatkan waktunya bersama keluarga. Karena butik yang berlokasi di Tebet Timur Raya no.46 tersebut sekaligus menjadi rumahnya.


Rangkul kaum dhuafa untuk kreatif

Sukses dalam karir menurutnya tak cukup. Ia lantas berbagi life skill dalam industry kreatif. “Saya ingin mengembangkan mikro economic, dan menumbuhkan perekonomian rakyat. Dan tujuan lainnya untuk menciptakan Indonesia pintar lewat pemberdayaan perempuan khususnya.” terangnya.

Amy begitu terinspirasi dari apa yang pernah disampaikan Ibu Negara, Any Yudhoyono bahwa sebagai generasi muda harus memajukan industry kreatif serta membuat dan menciptakan Indonesia pintar. “Dan saya baru mulai do the balancing, dengan mengajar dhuafa dan tuna rungu. Kemudian saya lakukan itu secara pribadi.” Katanya.

Sekarang, ia disibukkan dengan mengajar workshop kreatifitas payet dan menjadi pembicara di beberapa workshop entrepreneurship, serta mengajar kaum dhuafa dan tuna rungu. Ia bekerjasama dengan berbagai perusahaan yang menjalankan Corporate Social Responsibility (CSR).

Dari situ, kaum dhuafa dan tuna rungu mendapatkan sertifikat khusus darinya. “Saya senang mendengar mereka bisa memayet sambil menunggu warung bakso. Jadi ilmu saya berguna untuk mereka” jelasnya.

Ilmu yang diberikan kepada kaum dhuafa dan tuna rungu begitu disambut baik oleh beberapa rekannya. Alhasil, ketika ia didaulat untuk menjadi desainer kebaya untuk putri mantan presiden Abdurahman Wahid, Yenny Wahid, Amy langsung berinisiatif mempersilakan murid-muridnya untuk memayet selendang yang dikenakan Yenny saat hari pernikahan.

Betapa bahagianya Amy ketika melihat anak didiknya mampu memberikan sebuah selendang hasil kerja keras mereka. Kebahagiaan semakin lengkap tatkala Yenny mau memakai selendang di hari pernikahannya.

Untuk menjadi seorang desainer, ia pun memberi tips untuk selalu membekali diri tidak hanya dengan kemampuan seni yang tinggi, tetapi juga manajerial skill yang baik. “Karena kombinasi keduanya itu akan lebih mempercepat kita untuk maju.” Kata ibu dua anak ini.

Keseimbangannya dalam menjalani karir untuk membahagiakan keluarga dan sesama bisa menjadi inspirasi untuk anda dalam mewujudkan suatu keinginan yang tak sekedar angan-angan.



Alexandra Dewi Hermanus, Wanita Multi Talenta

Berbekal dari usaha MLM yang dijalankan oleh ayah mertuanya, ternyata ketekunan itu membuahkan hasil. Alexandra Dewi Hermanus dan suami diberi kepercayaan untuk meneruskan bisnis MLM tersebut. Dari hanya berpegawai 4 orang, kini jumlahnya menanjak jadi puluhan. Apa kiat suksesnya?


Menjadi Managing Director Sun Hope Indonesia bukanlah hal mudah. Belum lagi ditunjang kesibukannya sebagai Co Owner Butik Secret Wardrobe. Di samping itu, ia masih meluangkan waktu untuk menulis.


Beberapa bukunya laris manis di pasaran. Sebut saja, I Beg Your Prada, Queen of Heart, The Heart Inside The Heart, dan Little Pink Book.


Berbagai karir tersebut tak membuat konsentrasinya terpecah. Dewi, sapaan akrabnya, malah semakin tertantang untuk menjadikan semua sama baiknya. Di tengah kesibukannya, ia juga selalu meluangkan waktu untuk keluarga, dan bersenang-senang dengan kalangan sosialita.


Dewi selalu berusaha untuk menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya. “Buat saya quality lebih baik daripada quantity, walau idealnya kalau bisa quantity dan quality. Jadi, so far, Senin sampai Jumat , saya bekerja, dan akhir pekan waktunya untuk keluarga.” Ujar ibu dari Jessie Chen dan Mason Chen tersebut.



Mengembangkan usaha ayah mertua


Tahun 1997, merupakan saat yang paling berat bagi Dewi. Di saat banyaknya perusahaan yang gulung tikar, ia malah diberi mandat untuk meneruskan usaha MLM yang sudah dikelola ayah mertuanya selama 30 tahun lebih.


“Ketika krisis moneter 1997, perusahaan semua gulung tikar, kita malah menggelar tikar. Maksud saya sepertinya saat itu perusahaan sedang at the right place at the right time with the right attitude" jelasnya sekaligus mengingat moment yang menurutnya tak bisa dilupakan seumur hidupnya.

Hal ini bermula, ketika ia dan sang suami, Peter Chen, yang saat ini menjabat sebagai Overseas Director Sun Hope Indonesia diberi kepercayaan oleh ayah mertuanya. “Anak-anaknya, termasuk suami dan saya diberi kesempatan untuk meneruskan dan mengembangkan bisnis ini di berbagai negara. Karena kebetulan saya orang Indonesia, maka ayah mertua saya memberi kesempatan untuk ekspansi di Indonesia. “ terangnya.

Awalnya Dewi tak pede melaksanakan usaha tersebut. Ia hanya ingin membantu suami. Namun, lama-kelamaan, ia mulai merasa enjoy dengan pekerjaan tersebut. Dan usahanya tak sia-sia. Perusahaannya bahkan telah dikenal sebagai perusahaan MLM ternama hingga kini.


Bayangkan, pegawai yang tadinya hanya berjumlah 4 orang, tahun ini bisa mencapai 10 kali lipat.


Butik dan buku

Selain sebagai wanita karir, Dewi juga menambah pundi-pundinya dengan hobi lain. Hobi belanjanya ia salurkan untuk membuka butik bersama beberapa teman-temannya, yang diberi nama Secret Wardrobe. Di situ, ia bisa menumpahkan hasratnya sebagai fashionista dengan menjadi Co Owner.

Di samping itu, Dewi ternyata memiliki hobi menulis. Ia pun enggan menyebut hobi barunya ini sebagai karir. “Menulis hanya sekedar hobby, bukan karier. So, no pressure.” Katanya santai.

Dewi menekuni bidang ini di saat perusahaannya mulai stabil. Ketika memasuki tahun ke delapan, ia mulai mengembangkan hobinya.

Konsep buku saya sudah ada ide matang, hanya butuh waktu maksimal 3 bulan, dikerjakannya pun hanya malam hari “ ujar alumnus The American Colege for The Applied Arts, Los Angeles, CA, USA jurusan Business Administration. Bukunya I Beg Your Prada terbit perdana tahun. 2006. Sambutan masyarakat pun cukup antusias. Setahun kemudian, Dewi meluncurkan buku keduanya bertitle Queen of Heart. Tahun ini, ia me-launching dua buku sekaligus. Berjudul The Heart Inside The Heart dan Little Pink Book.

Dewi yang sama sekali tak punya latar belakang pendidikan tulis-menulis mampu membius pembacanya, terutama kaum wanita dengan kata-kata modern dan mudah dipahami.


Dengan segala karirnya, Dewi pun merasa masih banyak cita-cita yang diinginkannya. Tetapi ia tidak merasa kecewa dengan apa yang diberikan Tuhan saat ini.


Sukses adalah memberi kontribusi secara positif


Ditanya mengenai definisi sukses, wanita cantik ini beranggapan bahwa kesuksesan berarti bisa memberikan kontribusi kepada kehidupan orang lain secara positif

Penyuka film kartun ini pun memberi bekal kepada anda yang tertarik di bidang tulis-menulis.

Menurutnya, sebagai pemula jangan terlalu fokus terhadap demand pasar, akhirnya menulis dipaksakan untuk disesuaikan dengan apa yang akan laku diluar sana. “Tapi menulislah dari apa saja yang penulis ketahui untuk di sharing kepada pembaca. Some people will like it, some people don't, tidak apa-apa, we can't please everyone. “ ujarnya.

Sementara untuk anda yang ingin menekuni bidang MLM, ia pun memberikan triknya. Menurut Dewi, MLM seringkali memberi miskonsepsi bahwa berkarir di MLM ialah sebagai distributor , part time saja bisa dapat menghasilkan uang banyak.

“Terhadap ini sebaiknya , be realistis. Tidak ada jalan pintas dan kalau dijalankan part time, hasilnya pun penghasilan part time. Hampir seluruh distributor MLM yang berpenghasilan luar biasa dari bisnis MLM menjalankannya secara fokus, dan full time.” Katanya.

Tips lainnya menurut Dewi, adalah keinginan untuk bergabung sebaiknya dari diri sendiri, sehingga mau belajar atau training dari diri sendiri, tidak ikut-ikutan trend atau ikut orang lain.