Rabu, 11 Januari 2012

Yuliasianne SulistiyawatiTak Pernah Berkedip Geluti Dunia IT

Rasanya mustahil untuk menjadi sukses jika melihat kehidupan Yuliasianne Sulistiyawati. Managing Director PT Pazia Pillar Mercycom tersebut berhasil melewati fase-fase sulit dalam kehidupannya. Namun kemauannya yang keras bisa menjadikannya berhasil seperti saat ini.

Dunia informasi teknologi (IT) yang tak pernah mati membuat Yuliasianne Sulistiyawati cukup tertantang. Kerja kerasnya pun menghasilkan beberapa penghargaan bergengsi. Dua penghargaan sekaligus berhasil disabetnya dalam ajang Asia Pacific’s Most Prestigius Awads For Entrepreneurs. Wanita yang akrab disapa Sianne ini berhasil menggondol trophy untuk kategori Outstanding Entrepreneurship Awards dan Most Promising Entrepreneurship Awards tahun 2009 lalu.

Di tahun yang sama, ia juga sempat meraih Service Entrepreneur of the Year dalam ajang penghargaan untuk para pengusaha yang diadakan oleh Ernst and Young.

Belum lagi, kepiawaiannya dalam menjalankan dunia IT sempat memecahkan rekor MURI, dalam prestasinya menciptakan National Hacking Competition.

Ingin memajukan dunia IT

Visinya untuk memajukan dunia IT memang luar biasa. Keinginan Sainne cukup sederhana. Ingin Indonesia tak tertinggal di bidang teknologi dari negara lain. “Waktu itu dambaan saya notebook itu seperti hari ini, bahwa semua orang butuh notebook. Punya notebook murah di setiap rumah, padahal waktu itu yang sedang booming adalah printer.” Ujarnya.

Kepiawaiannya di dunia IT dimulai dengan sangat baik. Ia mengawali karir secara profesional sejak 17 tahun lalu sebagai Marketing Manager di research company, PT Digiland Indonesia (Istidata Group).

Sianne memiliki ide untuk mengawali bisnisnya menjadi distributor Accer, LCD monitor. Ketika itu, ia mendirikan PT Pazia Pilar Mercycom sebagai perusahaan distributor. Di sana ia merupakan salah satu pemegang saham, dan menjabat sebagai Managing Director.

Ketika berada dibawah kepemimpinanya, Pazia mencatat kenaikan yang sangat fantastis, dalam penjualan Acer Notebook dan LCD monitor. “Di tahun 2005 notebook Accer terus mengalami kenaikan setiap bulan sampai hampir 100%.” Tutur ibu 2 anak ini.

Accer berhasil menduduki peringkat pertama untuk penjualan di Indonesia selama 4 tahun berturut-turut. Tahun 2007. PT Pazia Pillar Mercycom mulai berani untuk menjalin kerjasama dengan Samsung. Selama 2 tahun, penjualan printer Samsung di Indonesia memiliki pangsa pasar 2-3%.

Makan seadanya untuk melanjutkan hidup

Sianne kecil berasal dari keluarga yang lumayan berada. Ibu dan ayahnya ialah pengusaha kecil. Mereka memiliki beberapa agen kelontong. Namun, anak kelima dari tujuh bersaudara tersebut tidak dibiasakan untuk hidup manja.

Sejak berumur 8 tahun, ia dididik untuk bisa berhitung, agar bisa membantu ibunya berjualan di toko. Sianne setiap hari tak dibekali uang jajan. Ibunya hanya membekali dirinya dengan permen.

Kepiawaian marketing nya pun berawal dari situ. Ia menjajakan permen yang dibawanya kepada teman-temannya. Dari beberapa rupiah, ia berhasil memiliki uang jajan sendiri. “Karena tidak ada pilihan, dikasihnya permen, ibu nggak ngasih duit. Tapi dari jualan permen, dapat duitnya lebih banyak. Mungkin ya belajar sedikit-sedikit. Dengan sendirinya berjalan begitu saja. Tapi kan sebenarnya banyak hal yang bisa dipelajari. Semua orang kan sebenarnya punya jiwa menjadi seorang sales. Tetapi terpakai atau tidak.” ungkapnya.

Namun, siapa sangka, usaha sang ibu yang diretas dari nol ternyata bangkrut, lantaran ditipu oleh saudara sendiri.

Akhirnya, Sianne bersama keenam saudaranya, berikut ayah dan ibunya tinggal di rumah pembantu mereka. Karena saat itu, semua saudara yang dikenalnya tak ada yang mau merawat mereka. Saat itu ia merasa sangat sedih.

Rasa putus asa pun sempat melandanya. Ia merasa bahwa Tuhan tidak ada untuknya dan keluarga, tetapi hanya ada untuk orang lain.

“Saya tinggal dengan pembantu saya cukup lama, sampai saya disekolahkan di sekolah negeri. Ketika itu, mau makan telur saja, nggak bisa. Saya makan nasi putih sekepal dikasih garam. Ibu bilang tidak harus hidup kita itu untuk makan, tetapi kadang kita makan untuk melanjutkan hidup.” Katanya mengenang masa kecilnya.

Namun, ia kembali disadarkan bahwa pencobaan akan datang kepada setiap manusia, namun tidak melebihi kemampuannya. Dari situlah, ia mulai bangkit.

Bekerja disamping waktu kuliah

Lulus sekolah, Sianne berhasil masuk ke jurusan Manajemen Informatika di Universitas Bina Nusantara, dengan berbekal beasiswa. “Saat itu mau kuliah juga bingung nggak punya uang. Tetapi akhirnya saya berhasil dapat beasiswa.” Katanya.

Karena tak punya uang, Sianne memutuskan untuk kuliah sambil bekerja. Ketika itu, ia bekerja sebagai asisten dosen. Usai jam kuliah, ia juga bekerja part time di PT Widya Raharja Informartika dan 21st Century Computer. Keduanya saling berkaitan. Di PT Widya Raharja Informartika, sebagai perusahaan warehouse, ia belajar berdagang. Sedangkan di 21st Century Computer, Sianne mendalami dunia programmer.

Tahun 1995, Sianne lulus kuliah. Lagi-lagi, karena kecerdasannya, ia berhasil mendapatkan beasiswa S2 ke Australia, namun kesempatan tersebut tak diambilnya, lantaran tidak diperbolehkan oleh sang kekasih. Barulah, setelah ia menikah, ia kembali mendapatkan beasiswa prestasi di Universitas Pelita Harapan. Sianne memutuskan untuk mengambil jurusan Marketting Finance.

Lulus S2, Sianne pun kembali melamar kerja. Ia lalu diterima di sebuah perusahaan distributor, salah satunya Hewlett Packard, di PT Digiland Indonesia (Istidata Group). Ketika itu ia menjabat sebagai Marketing Manager.

Sianne mengaku belajar banyak dari situ. Karena, perusahaan tersebut, produknya menjangkau semua Negara di wilayah Asia Pasifik. Sebuah pembelajaran yang tak ternilai, begitu ia menyebutnya. “Saya pikir kalau mereka bisa, harusnya kita mesti bisa. Saat itu, kata-kata tersebut yang menyemangati saya. Itu terus yang saya perjuangkan.” Terangnya.

Sembilan tahun di perusahaan tersebut, tahun 2004, Sianne lalu memutuskan untuk membuka perusahaan IT sendiri, yaitu PT Pazia Pillar Mercycom. Disana, ia bertindak sebagai salah satu pemegang saham dan Managing Director. “ Saya ingin lebih professional di bidang ini.” Jelasnya.

Sebagai distributor, PT Pazia Pillar Mercycom menggandeng brand Samsung dan Accer. Sianne pun kembali menorehkan sejumlah prestasi. Diantaranya, ia berhasil masuk rekor MURI. Sianne berhasil menciptakan National Hacking Competition, sebuah kejuaraan para hacker.

Yang terpikir di benaknya ketika itu hanyalah ingin membuat suatu wadah untuk para hacker. Walaupun menuai pro dan kontra, akhirnya kompetisi tersebut berjalan sukses, dan menuai prestasi.

Dunia IT tak berkedip

Menjalankan pekerjaan di bidang IT memang membutuhkan kesabaran tersendiri. Ia mengibaratkan bahwa untuk bergelut di dunia IT menuntunya untuk tidak berkedip sedikitpun, karena teknologi setiap detik terus berubah.

“Kita tidak boleh salah strategi., apapaun harus tercapai, akurat, dan benar-benar membutuhkan ketelitian.” Jelasnya.

Dunia tersebut diakuinya cukup melelahkan, namun komitmen di bidang IT membuat Sianne kembali bekerja secara professional. “Apapun yang sudah di komit, itu harus dijalankan. Itu membantu saya banyak dalam bisnis ini.” Terangnya.

Saat ini Sianne berhasil meraup sukses, dari perjalanan karirnya. Ia pun tak menjadi sombong, dan selalu berbagai kesuksesan dengan tim nya.

Ditanya arti kesuksesan, wanita yang memiliki hobi berkuda ini pun berpendapat, bahwa ia merasa sukses kalau sudah berhasil membagi kesuksesan itu untuk orang lain. “Kalau sukses untuk kepentingan diri sendiri, menurut saya itu bukan sukses.” Ujarnya.

Untuk itu, di waktu luangnya, Sianne selalu menyempatkan diri untuk berkunjung ke sejumpah panti asuhan untuk berbagi kepada sesama.


Jan Djuhana, Dari Toko Kaset ke Record Label

Kecintaannya terhadap dunia musik, bisa menjadikan Jan Djuhana eksis di bidang tersebut. Berbekal hobi dan pengamatan bermusik yang didapatnya secara otodidak, ia mampu membesarkan record labelnya terkenal hingga detik ini.

Dari banyaknya penyanyi, ada seseorang yang berjasa mengorbitkannya. Dialah Artist & Repertoire Senior Director, jabatan yang diemban Jan Djuhana di PT Sony Music Entertainment Indonesia, salah satu record label ternama di Indonesia.

Selama berjuang di industri musik, ia mengalami pasang surut, namun Jan berhasil mengorbitkan sejumlah penyanyi, sebut saja /RIF, Glenn Fredly, Padi, Tasya, Sheila on 7, Cokelat, Audy, Rio Febrian, The Groove, Superman is Dead, The Changcuters, dan masih banyak lagi penyanyi lainnya.


Dipusingkan oleh musik

Pekerjaan tim Jan setiap hari menyortir ratusan demo yang masuk. Setelah disortir, lantas demo tersebut dikirim ke mejanya. Ia pun mengambil keputusan untuk menyetujui demo tersebut atau tidak.

Jan juga bertugas untuk merekrut artis, sebagai produser rekaman, dan mengurusi promosi sang artis.

Dalam menyortir ratusan demo yang masuk, ternyata tidaklah mudah. Ia dipusingkan dengan segala jenis musik yang sampai ke telinganya.

“Saya dengarkan semua demo yang sampai ke meja saya. Dan itu tidaklah menghabiskan waktu yang sedikit. Kadang sampai saya bawa pulang. Di kantor, di mobil, sampai di rumah, semua demo saya dengarkan,” katanya.

Menghabiskan waktu untuk mendengarkan demo yang masuk bukanlah persoalan mudah. Kadang lagu-lagu yang sampai ke telinganya tidaklah easy listening alias komersil. Namun, Jan tetap sabar, dan menuntaskan semua lagu tersebut.

“Kalau demo-demo masuk, harus semua didengarkan. Juga tidak boleh cepat ambil keputusan jelek. Karena mereka membuat demo itu juga perlu berbulan-bulan baru selesai untuk mengirimkan karya mereka. Kalau kita memutuskan dalam satu menit menolaknya, itu kan kasihan mereka,” kata ayah 3 anak tersebut.

Banyaknya persaingnan di dunia industri musik Indonesia membuat Jan bangga bisa berada di dalamnya.Dunia musik di Indonesia pun dirasanya masih sangat menggairahkan.

“Karena kecanggihan alat-alat digital yang murah, anak-anak band sekarang bisa membuat demo sendiri di rumah. Itu luar biasa,” tuturnya.

Berawal dari toko kaset

Jan kecil sudah menjiwai seni. Apapun bentuk seni ia suka. Seperti seni lukis, seni suara, hingga desain interior. Ketika beranjak remaja, ia pun membentuk grup band bernama Navano dengan enam orang personil.

Bersama band- nya, Jan kerap mentas di sejumlah tempat membawakan lagu-lagu top 40 ketika itu, seperti The Beatles, Deep Purple, dan The Bee Gees.

Ketika beranjak SMU, Jan pun melirik bisnis lain. Yaitu menjual kaset. Ia sempat memiliki toko kaset di Glodok, Jakarta Barat. Bisnisnya lancar.

Jan lalu mengembangkan bisnis di bidang lain. Bisnis alat tulis kantor. Namun, bisnis toko kaset masih tetap dijalaninya.

Ia mengirimkan alat tulis kantor ke sejumlah daerah, hingga Irian Barat. Namun karena modal kecil, dan pembayaran yang sering nunggak dari para pemesannya, akhirnya bisnisnya tutup.

Namun, toko kaset masih bertahan. Ketika menginjakkan bangku kuliah di jurusan Elektro di Universitas Krida Wacana, Jan sempat berantakan membagi waktu antara kuliah dan berbisnis.

Tiga tahun membangun toko kaset, Jan pun harus pasrah menerima bisnis kaset tak berjalan seperti yang diharapkan.

Akhirnya seorang teman menawarkannya untuk bekerja di Team Records. Lalu pada tahun 1980-1990, merupakan saat tersulit dalam hidupnya. Ternyata Team Records tutup.

Jan yang menggantungkan hidupnya pada record label tersebut, akhirnya harus menggadaikan rumahnya.

“Saya kredit di bank untuk bisa kembali membuka toko kaset eceran,” kenangnya.

Namun masa sulit tersebut berhasil dilaluinya. Seorang teman menawarkannya untuk membantunya di PT Sony Music Entertainment Indonesia.

Jan dipercaya untuk membidangi soal produksi lagu Indonesia. Ketika itu, Sony sama sekali belum mempunyai penyanyi Indoensia. Lalu di akhir tahun 1997, barulah ia bisa mengedarkan album /RIF yang pertama.

“Ternyata /RIF bisa diterima. Sejak itu berlanjut, kami dipercaya hingga sekarang,” katanya.

Jan pun mengungkapkan kebesaran Tuhan yang pernah didapatnya di masa paling sulit dalam hidup tersebut.

“Tuhan masih sayang sama saya, sehingga saya bisa membuktikan bahwa saya masih mampu. sehingga bisa mendapatkan artis-artis yang akhirnya sukses,” kenangnya.


“Saya bangga bisa menyukseskan banyak penyanyi”


Sungguh berwibawa bapak 3 anak tersebut. Ia pun menyebut sebuah kesuksesan bukan untuknya sendiri, tetapi untuk para penyanyi yang berhasil ia orbitkan.

“Saya merasa sukses ketika artis yang saya kontrak tidak dikenal sama sekali, tetapi akhirnya bisa dikenal orang secara nasional., bahkan internasional. Saya bangga bisa menyukseskan banyak penyanyi,” demikian katanya.

Jan juga berpikiran bahwa Tuhan sudah mengatur rejeki bagi setiap orang. “Kita harus menerimanya. Saya bersyukur sampai saat ini masih diberi rejeki, karena dengan bersyukur kita akan merasa bahagia,” katanya.

Hingga saat ini, Jan juga bersyukur masih diberi kepercayaan untuk bekerja, sehingga ia selalu berusaha, dan menumbuhkan sikap optimis.

Dan bagi anda yang penasaran tak pernah tembus ke record label, janganlah berputus asa. Ciptakanlah sesuatu yang berbeda pada musik anda, sehingga bisa memberikan warna lain di musik Indonesia.

“Anak-anak sekarang kan kreatif. Buatlah sesuatu yang berbeda dengan yang ada di pasar. Jadilah leader yang bisa membuat musik Indonesia itu berbeda dan akhirnya bisa direspon oleh masyarakat, “ katanya.

Novita Tandry, Sang Pejuang Pendidikan

Sosok pahlawan bukan hanya berlaku bagi para pejuang kita di masa lalu. Lewat kontribusinya yang besar di bidang pendidikan, Novita Tandry layak disejajarkan sebagai salah satu pejuang di era modern. Siapa sih dia?


Pahlawan biasanya identik dengan para pejuang yang mati-matian membela negaranya pada waktu jaman kemerdekaan. Namun, salah satu wanita ini bisa dijadikan sebagai pahlawan di era masa kini. Dia adalah Novita Tandry, President dan Managing Director dari Tumble Tots Indonesia.

Tumble Tots merupakan salah satu franchise pre-school dengan cakupan 43 cabang di seluruh Indonesia. Beberapa daerah yang dicakupnya meliputi Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, dan Bali.

Lewat perjuangannya memajukan kecerdasan bangsa, Novita memilih mengabdikan diri di bidang pendidikan, untuk membuat program pendidikan anak-anak dan bayi.

“Saya ingin semua anak di Indonesia itu tumbuh jadi anak yang pintar,” demikian obsesinya ketika itu.

Tak sembarangan bukti eksistensinya di bidang pendidikan. Lewat jasanya terhadap dunia pendidikan, Novita berhasil meraih berbagai penghargaan. Salah satunya, menjadi salah satu finalis dalam acara Ernst and Young Entrepreneurial Winning Women. Ia juga masuk dalam kategori 10 The Most Powerful Women 2008 versi SWA Magazine, dan juga 10 The Inspired Women 2009 versi Tabloid Wanita Indonesia.

“Saya bangga sekali. Karena bisa bertemu dengan wanita-wanita tangguh. Tetapi saya tak mau berhenti di situ. Karena semakin anda dikenal sebagai salah satu entrepreneur, berarti tanggung jawab dan beban justru lebih berat,“ katanya menjelaskan.

Apa yang menyebabkan Novita berhasil meraih berbagai penghargaan tersebut?


Cinta anak-anak

Dari kecil, Novita memang cinta terhadap dunia anak-anak. Ketika tinggal di Makassar, ia kerap mengumpulkan keponakan. Sekedar membacakan dongeng untuk mereka, memotong kuku, hingga mendandani anak-anak.

Berlanjut ke bangku SMP, ia mulai mengajar sekolah minggu di Gereja Kristen Indonesia, Makassar. Di sana, anak-anak diajarkan untuk bernyanyi dan belajar agama.

Dari situ, cintanya terhadap anak-anak mulai melebar. Ia lantas ingin mendirikan sekolah sendiri.

Usai merampungkan pendidikannya di University of New South Wales, Sydney, Australia tahun 1992, Novita memutuskan untuk menikah dan menetap di Singapura. Ia lalu melanjutkan sekolahnya di London Montessori International, Inggris tahun 2002.

Setelah memiliki anak, ia tertarik untuk memasukkan anaknya di sebuah pre -school. Anaknya yang pemalu, lantas berubah sedikit demi sedikit. Ia menjadi percaya diri. Wanita cantik tersebut akhirnya tertarik dengan program sekolah itu.

Akhirnya, ia memutuskan untuk membuka sekolah di Indonesia. Pendidikan anak-anak di Inggris, Singapura, dan Australia, yang pernah dilihatnya ternyata jauh berbeda dengan di Indonesia.

Atas alasan itulah, Novita memutuskan untuk memegang hak master franchise Tumble Tots, sebuah pre -school terkemuka di Inggris.

Sebagai wanita yang baru berusia 21 tahun ketika itu, tentu saja membuat General Manager Tumble Tots worldwide 'mikir-mikir'.

Untuk tahap percobaan, Novita lantas disarankan untuk membuka satu cabang di Indonesia. Akhirnya, ia pun membuka sekolah tersebut di kawasan Plaza Blok M. Awalnya, ia berjuang sendirian untuk mendirikan sekolah tersebut.

Mulai dari membuat kurikulum, mengadakan pendekatan dengan pihak-pihak terkait, mengurus ijin dari RT/RW sampai Depdiknas, menyebarkan brosur di perempatan lampu merah dan mall, sampai menjadi petugas kebersihan, karena harus menyapu dan mengepel setiap hari. Semua dikerjakannya sendirian, demi cita-citanya membangun sekolah bagi anak-anak usia dini.

“Awalnya muridnya Cuma 20 orang,” tutur ibu empat anak tersebut.

Tapi siapa sangka, tahun 1994, ia berhasil memegang Master Franchise Tumble Tots Indonesia hingga saat ini. Tumble Tots pun berkembang dan memiliki 43 cabang di seluruh Indonesia.

Ingin Cerdaskan Anak-Anak Pelosok Tanah Air


Image pendidikan hanya untuk yang berduit, ternyata begitu dirasakan Novita. Ia miris melihat pemerintah yang mengesampingkan kualitas sekolah yang tidak layak untuk dijadikan tempat belajar.

“Di Singapura, semuanya diperhatikan dengan begitu teliti. Dari luas bangunan, kurikulum, sampai toilet, dan ventilasi. Ini yang harus dilakukan oleh Mendiknas kita. Saya bingung kadang melihat garasi mobil bisa dijadikan sekolah. Itu kan tidak ada standarisasinya. Semua persyaratan hanya basa-basi, kalau ternyata ujung-ujungnya pendidikan hanya untuk yang punya uang, “ tegasnya yang begitu berharap dukungan pemerintah di bidang pendidikan.

Atas perhatiannya yang begitu besar terhadap pendidikan anak-anak, Novita sampai memikirkan pendidikan orangtua dan pengasuh yang biasa melakukan kekerasan terhadap anak-anak, seperti mencubit atau membentak anak-anak di depan matanya.

Sukses Menjadi Ibu yang Baik

Kesuksesan tak lahir begitu saja. Sukses lahir dari dukungan orang-orang terdekat. Ditanya arti sukses, Novita hanya ingin menjadi ibu yang baik bagi suami dan keempat anaknya.

“Kalau orang sukses, tetapi keluarganya berantakan, itu tidak ada artinya. Jadi menurut saya, sukses itu harus seimbang antara karir dan keluarga. Malah, keluarga nomor satu buat saya. Tanpa itu, namanya bukan sukses,” jelas istri Johannes Ongkowidjojo tersebut.

Novita juga menganut folosofi “Life is so Short” . Karena itu, dari sekarang, urusan keuangan menjadi nomor dua buatnya. Ia ingin mengembangkan keahliannya di bidang pendidikan yang dapat memberikan manfaat untuk orang banyak. Di samping, selalu menjadi istri dan orangtua yang baik bagi keluarganya.

“Saya hanya bekerja dengan seluruh kemampuan yang saya miliki. Yaitu leadership, bekerja sama dengan tim yang baik, dan bertanggung jawab. Apalagi bergerak di bidang pendidikan," terangnya.

Mungkin di Indonesia begitu banyak orang yang memiliki visi seperti Novita. Nah, untuk itu, dukungan terhadap dunia pendidikan memang harus di support oleh semua pihak. Dan Novita, merupakan salah satu wanita yang layak mendapatkan gelar pejuang pendidikan.

Susan Budihardjo, The Mother of Indonesian Fashion

Nama Susan Budihardjo begitu berkibar di industri fashion tanah air. Semangatnya dalam memperkenalkan fashion pada masyarakat Indonesia begitu tinggi. Susan pun kini mampu melahirkan anak didik yang karyanya cukup diakui di jagad fashion.

Namanya terdengar begitu santer bagi penikmat dunia fashion di Indonesia. Sekolah fashion miliknya bahkan mampu melahirkan desainer berbakat, yang punya nama di negara ini. Sebastian Gunawan, Deny Wirawan, Eddy Betty, Widhi Budimulia, Sofie, dan Adrian Gan adalah beberapa lulusan dari sekolah milik Susan.

Koleksi busana para alumninya, begitu kuat dengan siluet futuristic sampai extravaganza. Namun tak jarang juga yang menampilkan kesan classic dan simple. Kesemuanya adalah didikan Susan Budihardjo, yang kerap dijuluki ibunya dunia fashion Indonesia. Ia mendirikan lembaga pendidikan berbasis fashion yang sekarang memiliki tiga cabang di Indonesia.

Kami menemui Susan di sebuah acara ulang tahun kerabatnya. Mengenakan mini dress berwarna biru tua, dengan tiga buah aksesoris berupa brooch bunga dan sebuah cuff, Susan terlihat masih menawan. Ia juga menerima kami dengan ramah, meskipun waktu yang diberikan hanya sebentar.

Seluruh kehidupan wanita paruh baya tersebut memang sepenuhnya dihabiskan untuk dunia fashion. Gemerlap panggung fashion disatroni wanita perfeksionis tersebut.

Buktinya, ia tak hanya merancang busana saja, namun juga memberikan kurikulum, mengajar, dan akhirnya menghasilkan desainer kenamaan yang cukup berpengaruh di ranah fashion Indonesia.

Mengejar Ilmu Hingga Negeri Cina


Susan kecil memang suka menggambar. Darah seni mengalir deras dari sang ibu, yang juga seorang guru menggambar. Kebiasaan menggambar ini lantas tumbuh hingga ia beranjak dewasa.

Susan sempat mencicipi jurusan arsitektur di Universitas Tarumanegara. Namun menjalani kuliah selama satu semester di sana, membuat Susan bosan. Susan pun mulai memilih untuk belajar fashion di ISWI sampai lulus tahun 1972.


Namun, Susan yang masih haus akan ilmu, ingin meneruskan pendidikan fashionnya ke luar negeri.

Peribahasa 'Kejarlah ilmu hingga negeri Cina' pun dilakoni Susan. Tahun 1974, ia berangkat ke London dan Kanada. Di sana, ia lagi-lagi mengambil kuliah jurusan fashion, untuk memperkaya ilmunya.

Banyak mendapat ilmu seputar dunia fashion, mencetuskan ide lain, bahwa ia tak ingin hanya menjadi seorang desainer saja, tetapi juga mau menekuni ilmu tersebut dan mentransfernya ke orang banyak.

“Sepertinya waktu itu antusiasme orang masih kurang, karena ketika itu fashion belum populer. Orang berpikiran kalau fashion itu identik dengan jadi tukang jahit. Tapi saya tertarik karena senang saja. Dan awalnya memang tidak berpikir kalau ini jadi peluang bisnis. “

Pulang ke Indonesia, tahun 1980, label busana Susan yang dinamakannya “Susan Budihardjo” pun mulai dikenal masyarakat. Susan pun terus melenggang dengan mendirikan sekolahnya yang diberi nama 'Lembaga Pengajaran Tata Busana Susan Budihardjo' di tahun yang sama.

Teman-temannya ternyata banyak yang memandang sebelah mata, dan tak sedikit yang berkata, “ Nggak salah buka sekolah. “

Tetapi Susan tetap mantap ingin menyumbangkan ilmunya. Ia pun sabar mengajar muridnya hingga berkembang pesat sampai sekarang.

“Awalnya saya hanya punya satu murid,” tuturnya.

Tiga tahun berselang, ternyata jumlah anak didiknya bertambah banyak, dan terus sukses hingga sekarang. Bahkan lulusan lembaga tata busananya sudah diakui eksistensinya di dunia fashion.

“Saya selalu mendorong anak-anak saya untuk tampil lewat kreasi. Kalau orang sudah mengakui saya sebagai pendidik, itu sudah cukup bagi saya," kata wanita yang selalu menyempatkan berkumpul dengan keluarga saat weekend tersebut.

Di matanya, perkembangan dunia fashion saat ini begitu membanggakan. Fashion mulai dipandang banyak orang sebagai profesi yang sangat menjanjikan.

“Dengan majunya fashion di negara kita ini, ini, sekarang setiap kita buka angkatan, ada anak muda yang baru lulusan SMA, sudah tertarik untuk sekolah fashion. Berarti kan mereka sudah memandang bahwa fashion itu adalah sesuatu bidang yang menjanjikan,” jelasnya.


Go with the Flow

Tiga buah sekolah Susan berkembang pesat di Jakarta, Semarang, dan Surabaya. Anak didiknya juga mulai eksis di lingkup fashion tanah air. Tetapi, sebagai 'The Mother of Indonesian Fashion', Susan belum merasa sukses.

“Saya nggak merasa sukses, mungkin karena saya orangnya tak pernah puas. Tetapi Tuhan sudah memberi saya anugerah sampai saat ini. Ya sudah lah saya jalankan apa adanya,“ katanya.

Konsentrasinya saat ini hanyalah meningkatkan mutu dan kualitas sekolahnya untuk selalu menjadi lebih baik lagi.

“Saya tahu fashion berkembang terus, saya juga trus mencari, me-research, apa sih perkembangan mode saat ini, karena saya nggak bisa terus sekolah keluar kan, “ terangnya.

Satu hal yang patut diacungi jempol dari ibunya para desainer ini, adalah pencapaian prestasi yang didapat para anak didiknya selalu mendapatkan penghargaan, dan bisa diterima di panggung fashion Indonesia.

“Buat saya yang harus dipertahankan, bukan saya yang mendapat achievements, tetapi bagaimana anak didik saya bisa punya karya yang stabil dan punya identitas, itu sudah merupakan penghargaan menurut saya,” tuturnya.


Jatuh Bangun Robby Winindo di Pasar Modal


Jatuh bangun berhasil dilaluinya sampai akhrinya ia berhasil menjadi Direktur di sebuah perusahaan sekuritas bernama HD Capital. Setelah bangkit, Robby Winindo memiliki keinginan untuk memperkenalkan pendidikan pasar modal semenjak sekolah.

Sore itu, saya menunggu sekitar 30 menit untuk dapat menjumpai Robby Winindo, Direktur HD Capital. Karena kesibukannya sebagai frontliner, kami harus bersabar menunggu ia menyelesaiakan pekerjaannya.

Kami lalu diboyong ke sebuah ruangan meeting seluar kira-kira 6x5 meter. Tak berapa lama, pria ramah itu muncul juga.

Tak seperti yang kami bayangkan, bahwa ia akan tampil rapi layaknya orang-orang yang bergerak di pasar modal, seperti BEI. Tetapi yang terlihat adalah Robby tampil begitu casual dengan berbalut kemenja lengan pendek dan celana panjang. Seragam itulah, yang menuntunnya hingga saat ini.

“Saya adalah tipe pemimpin yang non formal. Yang penting bagi saya income, bukan penampilan. Santai bukan berarti tidak rapi kan?” tuturnya santai.

Pria kelahiran Jakarta 13 Juni 1972 itu lalu menceritakan pahit manisnya bergelut di dunia pasar modal.

Salah jurusan

Keahlian dan bidang pekerjaan yang digeluti oleh pria yang hobi memasak itu memang ajaib. Bagaimana tidak, keduanya berbanding terbalik.

Robby adalah Sarjana Teknik dan Manajemen Industri dari Institut Teknologi Indonesia, Serpong. Akhir masa kuliah dihabiskannya dengan menjadi asisten laboratorium. Ketika skripsi, ia malah tertantang untuk mencicipi dunia forex. Alhasil skripsi nya pun terbengkalai.

“Saya ditawari oleh ayah. Tetapi saat itu baru di perusahaan forex. Itu juga saya tidak punya pengalaman sama sekali,” katanya.

Ketertarikan di lingkup pasar modal diawali dengan menonton film Wall Street. Dunia pasar modal yang begitu dinamis rasanya membuat Robby begitu tertantang, dan ingin merangsek masuk ke dalamnya.

Lulus kuliah tahun 1996, Robby malah tertarik bergabung dengan perusahaan pasar modal. Padahal ada tawaran yang lebih menggiurkan di perusahaan Jepang.

“Padahal saya sudah tinggal training di Singapore. Tetapi saya ingin tantangan baru. Akhirnya saya harus rela meninggalkan bakal karir yang sesuai disiplin ilmu saya, demi keinginan saya untuk belajar pasar modal,” jelasnya.

Januri 1997, Robby mengawali karirnya di Harumdana Sekuritas, di sana, ia bertindak sebagai Equity Dealer dan berkembang menjadi Equity Sales hingga 30 Juli 1998.

“Saya tidak tahu-menahu tentang dunia ini, tetapi saya nekat saja. Saya pikir dengan belajar, semua pasti bisa. Dan ketika itu, saya memang tertarik untuk investasi, dengan tujuan cepat kaya,” katanya sambil tertawa.

Ternyata tenaga ahli di dunia pasar modal masih jarang di Indonesia. Hal itulah yang menjadikan Robby merasa tertantang. Karir di pasar modal juga dirasa lebih cemerlang jika dibandingkan dengan perusahaan lain yang lebih mapan.

Betul saja, hanya dalam tempo setahun, Robby lalu pindah kerja ke Minsuco Omega Securities. Karirnya pun menanjak sebagai Sales Manager.

Dan pada bulan Agustur 2000, hingga saat ini, Robby bisa menikmati karirnya sebagai Direktur di PT HD Capital Tbk.

Ia membawahi sekitar 40 karyawan di perusahaannya. Di mata karyawan, Robby adalah tipe pemimpin yang asyik untuk diajak kerjasama. Ia pun tak neko-neko mengatur penampilan anak buahnya.

“Yang penting penampilan sopan, kerjaan beres, dan dapat income,” tuturnya sambil tersenyum.


Investasi berantakan

Bergerak di bidang pasar modal bukan tanpa kendala. Kadangkala, Robby dipusingkan dengan berbagai masalah di dalamnya.

Ketika duduk sebagai frontliner tahun 2002, ia berpikir harus punya income di luar pekerjaannya yang bisa menghasilkan income tetap per bulan.

Akhrinya ia mendirikan usaha di luar bidang yang ia kuasai. Bergabunglah ia dengan teman-temannya di sebuah usaha industri lain.

Akhirnya ia merugi hingga banyak sekali, dan semua materi yang ia punya hilang begitu saja.


“Saya banyak dapat pelajaran dari situ. Saat saya kena, saya sempat stress, tetapi ketika fase itu lewat, saya mulai berpikir lagi. “ katanya.

Robby pernah menelan pil pahit selama berkali-kali. Dari situlah, ia belajar stress pasti ada, dan bagaimana menghadapinya.

“Itu dijadikan tujuan saja. Tetapi saya pikir hidup itu harus berusaha. Kita harus berusaha lagi. Kalau semua sudah dilakukan, tetapi masih gagal, lakukan lagi sambil kita evaluasi kegagalan kita, jangan sampai stress.”

Kita tidak pernah tahu juga kan berkat sekarang yang kita terima apakah berkurang atau bertambah di kemudian hari. Kalau kita tidak bisa mensyukuri berkat yang kecil, bagaimana kita bisa menerima yang lebih besar. Jangan mengharapkan terlalu banyak, jalani saja,” jelasnya.

Dari situ, Robby kemudian mencoba untuk menata ulang karir yang telah ia jalani. Dari situ, ia sadar, bahwa kesuksesan tak hanya masalah materi semata.

“Sukses yang penting happy,”tuturnya.



Ingin pendidikan pasar modal dikenal sejak sekolah


Robby memiliki keinginan terdalam, pasar modal mulai dikenal oleh masyarakat awam. Ia ingin pendidikan pasar modal ditanamkan semenjak dini.

Robby berpendapat suatu bangsa haru melek investasi. Apalagi bangsa besar seperti Indonesia. Untuk itu, ia sangat mengharapkan pendidikan pasar modal mulai diperkenalkan semenjak sekolah.

“Paling tidak sejak SMP, pengantar pasar modal sudah ditanamkan, sehingga di waktu kuliah, tinggal meneruskan saja. Seperti jaman dulu, ada gerakan ayo menabung di zaman orde baru. Jadi masyarakat awam sudah teredukasi sejak dini,” terangnya.

Dengan hal tersebut, paling tidak ketika lulus kuliah, orang sudah memahami dunia pasar modal. Suatu investasi modern, pengganti gerakan ayo menabung di jaman tradisional dulu.

Tak terasa hari mulai gelap. Suasana malam telah berganti di tengah obrolan yang kami mulai dari sore hari.

Sosok Robby yang sederhana, namun kaya ilmu, kiranya bisa menjadi inspirasi Anda dalam berkarir di bidang apapun juga.


Santi Mia, Pengusaha Wanita Multitalenta

Ibu Kartini memang meninggalkan banyak warisan berharga. Salah satunya, emansipasi wanita yang saat ini tengah dinikmati para wanita di Indonesia. Salah satu pahlawan wanita masa kini yang berhasil dalam kariernya adalah Santi Mia Sipan. Santi saat ini dikenal sebagai salah satu pengusaha yang terbilang sukses di Indonesia.

Kartini masa kini. Mungkin itulah sedikit hal yang tersirat dalam diri Santi Mia Sipan, Presiden Direktur Jaty Arthamas. Lewat keuletannya menggeluti berbagai bisnis, Santi bahkan sempat dianugerahi Best Women Entrepreneur of The Year dan juga menyabet gelar PGA Best Motivator of The Year pada tahun 2010.

Perusahannya juga sempat menggondol Best Company of The Year 2011 dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia.

Saat ini, Santi disibukkan dengan segudang aktivitasnya di bidang agribisnis, yakni berbisnis jati. Pohon jati yang tetap abadi, merupakan salah satu alasan Santi untuk mencoba bisnis ini.

Berbisnis di tengah kemapanan

Bisnis tersebut bermula pada tahun 2005, ketika dirinya berpartner dengan Professor Sugiharto yang memiliki bibit jati dan pengembangannya.

Padahal sebelumnya, kariernya terbilang mapan, dengan menjabat sebagai sekertaris eksekutif para konglomerat, salah satunya Bob Sadino. Kariernya begitu cemerlang, bahkan sempat menjabat sebagai Assistant President Director PT. Bimantara Citra pada tahun 1994-1998.

Namun, entah apa yang terjadi, hingga suatu saat ia merasakan sakit yang aneh, yaitu merasa mual setiap hari ingin berangkat ke kantor. Kebosananan yang amat dalam menggeluti pekerjaan kantoran inilah, yang justru membawa hoki lain dalam kehidupan Santi berikutnya.

“Saya nggak tahu itu penyakit apa, mungkin ini terjadi karena saya sudah bosan dengan pekerjaan kantoran, sehingga tubuh saya tidak kuat atau bosan menerima pekerjaan di hadapan saya,” jelasnya.

Tahun 2002, ia lantas memutuskan untuk berhenti bekerja. Ia lalu menjajal dunia multilevel marketing dengan berjualan madu botol. “Baru bergabung dua bulan, ternyata penghasilan saya sudah lumayan,” ceritanya.

Berhasil di MLM, Santi lantas berkeinginan untuk membuat multilevel sendiri di bidang properti, yang diberi nama PT. Property Global Agency di tahun 2005.

Bisnisnya berkembang pesat. Dan pada tahun 2005, Santi mengembangkan bisnisnya dengan membuka kantor pertamanya di Senayan Trade Center (STC), yang diberi nama PT. Jaty Arthamas.

Santi mencoba mengelola kebun pertamanya di wilayah Sukabumi. Tetapi karena faktor lokasi, banyak investor yang telah tertarik memilih untuk mundur, karena lokasinya tidak strategis.

Akhirnya, ia memilih Jonggol, untuk lokasi pembibitan selanjutnya. Ternyata berhasil. Permintaan kayu jati saat ini sudah sangat tinggi. Harga kayu jati pun kian meningkat setiap tahunnya.

Pihaknya juga telah bekerjasama dengan pemerintah swasta dan luar negeri, seperti Jazirah, Arab, India, dan Malaysia.

Bisnis ini ternyata berpeluang cerah. Santi juga memiliki sistem pemasaran yang cukup menarik, yaitu professional. Ia selalu menyempatkan untuk melayani permintaan kliennya. “Saya masih melayani pembeli yang hanya ingin membeli satu pohon jati, Beli jati ditempat saya juga boleh mengangsur selama enam bulan,” tutur wanita kelahiran Jakarta, 20 Mei 1965 tersebut.

Nyatanya, sudah satu dekade, bisnisnya berjalan mulus. Saat ini, pembelinya membeludak, tak hanya dari dalam negeri, tetapi juga internasional. “Anak saya yang bisa membuat saya seperti ini.”

Pernah menjadi single mother, yang bisa menghantarkan Santi hingga sukses saat ini. Perjuangan panjang untuk bisa menjalani dualisme peran, sebagai ibu dan juga ayah sekaligus, membuatnya berhasil.

Santi memiliki dua orang anak. Anak keduanya, perempuan, ternyata tidak seperti anak lainnya. Ia mengidap autis. “Putri saya autis, itulah yang menjadikan saya memiliki kekuatan yang luar biasa sampai sekarang,” ujarnya.

Ketika putrinya lahir, Santi tak henti-hentinya meneteskan air mata. Namun seiring berjalannya waktu, ia merasa lebih tegar, dari wanita manapun yang memiliki anak normal.

Sarjana Bahasa dan Sastra Perancis tersebut selalu mencari solusi, dan memutar otak untuk bisa menjalani pekerjaan apalagi guna memenuhi kebutuhan keluarganya, terlebih dalam menuntun anaknya. “Anak saya memberikan pelajaran yang berharga dan sejuta kekuatan kepada saya," katanya.

Benar saja, saat ini, Santi bisa menikmati buah kerja kerasnya. Bahkan putera pertamanya, yang saat ini duduk di bangku kuliah sudah mulai mengikuti jejak sang bunda. "Anak saya sejak usia 12 tahun, sepertinya tertarik ketika saya berbisnis MLM. Ia lalu minta diajarkan cara-caranya, dan sekarang, ia ikut membantu bisnis saya."

Bagi wanita ramah ini, kedua anaknya yang membawanya menuju dunia dan akhirat. "Anak sulung saya alhamdulilah sudah bisa membantu ibunya, sedangkan anak kedua saya memberikan saya kesabaran, dan itu pula yang akan membukakan pintu surga untuk saya nantinya," katanya.

Semua usaha kerasnya membuahkan sukses yang tak ternilai harganya. Sejumlah materi dinilainya belum mencapai apa-apa tanpa rasa syukur di balik semua itu. “Kalau merasa sukses, menurut saya lebih kepada rasa syukur yang luar biasa,” katanya.

Hingga saat ini, Santi memiliki lebih dari 150 karyawan yang membantunya dalam menjalankan agribisnisnya. Di balik semua itu, sang bunda menjadi sosok sosok teladan baginya. Sang ibu selalu berpesan kepada anak-anak perempuannya untuk bekerja, agar tidak disepelekan oleh suami nantinya. “Ibu memberikan semangat kepada saya untuk selalu maju,dan pantang menyerah,” katanya.

Di era modern, Santi Mia Sipan memang menjadi salah satu penerus Kartini, yang mengedepankan dualisme peran wanita modern. Yaitu berhasil dalam karier dan keluarga.

Warna-warni kehidupannya pun kiranya bisa memberikan inspirasi bagi setiap wanita untuk selalu bersyukur dalam menjalani hidup untuk menjadi lebih baik lagi. (*/dini)

Gagal Jadi Pengacara, Hasim Halim Sukses di Dunia Asuransi





E-mail

Bakat terpendamnya sebagai marketing telah terpupuk dari kecil. Hal inilah yang menjadikan Hasim Halim, Director Consumer Corporate Marketing PT Asuransi Raksa Pratikara sukses menekuni dunia marketing yang sebenarnya. Padahal cita-cita masa mudanya ingin menjadi pengacara. Bagaimana Hasim bisa memutuskan berbelok arah?

hasim0112Merintis karier di dunia marketing bukanlah hal yang mudah. Apalagi hal ini berkenaan dengan dunia asuransi. Ditambah lagi, ilmu tentang dunia asuransi tidak dikuasai sama sekali. Hal inilah yang terjadi pada Hasim Halim.

Asuransi Raksa Pratikara merupakan kelanjutan dari Asuransi Artapala yang didirikan sejak tahun 1975. Asuransi Raksa Pratikara merupakan salah satu dari sepuluh perusahaan asuransi terbesar di Indonesia dalam hal penghasilan premi bruto dan merupakan lima besar dalam perolehan premi bruto kendaraan bermotor.

Hasim Halim menjalankan pekerjaan di dunia asuransi dengan berbekal kemauan keras. Berkat kerja kerasnya, ia pun berhasil ikut mengharumkan nama PT Asuransi Raksa Pratikara.

Beberapa penghargaan berhasil diraih Hasim bersama perusahaannya. Tahun 2007, perusahaan ini pernah meraih Asuransi Umum Beraset 250 milyar-1 triliun dari Majalah Investor. Kemudian di tahun 2009 dalam acara Media Asuransi Award meraih 2nd Winner Best Insurance untuk kategori Peringkat Perusahaan Asuransi Umum dengan modal sendiri Rp 100-250 miliar.

Sarjana Hukum yang berbelok arah

Lulus SMU, Hasim tertarik untuk mendalami ilmu hukum, karena cita-citanya yang ingin menjadi seorang pengacara. Pada tahun 1988, ia lalu mengambil kuliah jurusan hukum di Universitas Tarumanegara. “Makanya orang bilang, manusia berencana, tetapi Tuhan yang menentukan. Itulah saya,” katanya sambil tertawa.

Sebelum lulus kuliah, Hasim tertarik untuk magang di PT Asuransi Artapala. Motivasinya ketika itu hanyalah untuk meringankan beban keuangan orangtuanya. “Saya sudah dikuliahkan, karena itu saya ingin sedikit meringankan beban orangtua saya. “ terangnya.

Ketika itu, ia bertindak sebagai part time operator telex. Hasim bekerja sejak jam 3 sore hingga malam. Di sana, ia banyak berhubungan dengan pihak luar negeri. Karena itulah, jam malam lebih sibuk daripada ketika siang hari, lantaran perbedaan waktu dengan negara di luar Indonesia.

Hasim mengaku awalnya hanya coba-coba di dunia asuransi. Lama-kelamaan, ia menikmati bekerja di dunia tersebut. “Asuransi itu memang general. Semua disiplin ilmu masuk. Dulu saya juga tidak pernah terpikir harus ambil jurusan special insurance kalau di asuransi,” tuturnya.

Karena sudah menikmati di bidang tersebut, maka lulus kuliah, cita-citanya pun terlupakan. Hasim telah merasa nyaman berada di lingkungan yang telah membesarkan kariernya.

Setelah menjadi part time operator telex, tahun 1988 ia menjadi Asisten Claim Manager di perusahaan tersebut. Tahun 1994, ia memutuskan untuk mengambil kursus asuransi untuk memperkaya pengetahuannya. Maka Hasim ikut kursus Insurance Management GIO Reinsurance di Australia.

Karirnya pun terus berkembang. Ia lalu menjabat sebagai Marketing Manager tahun 1995-1997. Dan di tahun 1997-1998, ia menjabat sebagai Senior Claim Manager. Tahun 1999, ia dipercaya menjadi Director Consumer Marketing. Dan di tahun 2010, Hasim kembali dipercaya untuk menjadi Director Consumer Corporate Marketing. “Sebagai prajurit, kita kan harus siap ditempatkan di mana saja,” kata anak ketujuh dari 10 bersaudara ini.

Hasim tumbuh dari keluarga sederhana. Kedua orangtuanya memiliki usaha tekstil. Keluarganya yang sederhana memiliki prinsip untuk memberikan warisan dalam bentuk ilmu. “Kata ayah ibu saya, ilmu itu tidak akan habis. Itulah yang saya ingat sampai sekarang,” kata pria yang hobi olahraga tersebut.

Sejak duduk di bangku SD, ia pun rajin membantu orangtuanya menjaga toko. Ketika liburan panjang datang, bukan rekreasi yang didapatnya, melainkan membantu ayah ibunya di toko tekstil.

Keharusan untuk berjualan menjadikan jiwa marketing-nya mulai muncul. Hasim kecil mulai terbiasa dengan sopan menyapa pelanggannya. Mengambilkan apa yang diinginkan oleh pelanggan, agar mereka mau mengunjungi tokonya kembali. Di mata keluarga, Hasim termasuk orang biasa-biasa saja. Ia jarang bermain dengan teman-temannya. Hasim lebih memilih untuk menjadi anak rumahan.

Dua puluh empat tahun berkecimpung di dunia asuransi bukanlah hal yang mudah. Hasim telah melewati pahit getirnya menjadi karyawan. Karena itu, ketika menjadi pemimpin, ia tetap menyukai pekerjaan dengan produktivitas kerja yang tinggi. Kepada anak buah, ia selalu mengutamakan diskusi. Saling melengkapi, begitu ia biasa mengatakannya.

“Yang kita jual dalam asuransi itu sebetulnya hanyalah kepercayaan. Bagaimana agar klien itu mau percaya pada produk kita. Karena itu, tidak bisa bekerja sendirian," katanya.

Sebagai seorang pimpinan, banyak orang lupa diri, bahkan menjadi sombong. Mengenai hal tersebut, Hasim berpendapat bahwa seorang pemimpin tidak boleh sombong. “Kalau sombong, bagaimana nantinya bisa memberikan apresiasi ke karyawannya,” terang pria kelahiran Jakarta, 7 April 1962 tersebut. (*/dini)

Link: http://ciputraentrepreneurship.com/entrepreneur/nasional/intrapreneur/14195-gagal-jadi-pengacara-hasim-halim-sukses-di-dunia-asuransi.html