Jumat, 13 Januari 2012

Alberthine Endah, Dari Pembaca, Jadi Penulis


Hobi membaca dari zaman sekolah membuat Alberthiene Endah penasaran. Kini hobi itu telah berbuah manis. Ia mengembangkan bakatnya menjadi salah satu penulis yang karyanya diakui di Indonesia. Ingin tahu sosok lengkapnya?

Bagi pecinta novel dan buku biografi, pasti tak asing lagi dengan sosok Alberthiene Endah atau yang akrab disapa AE. Bukunya selalu menjadi best seller. Sebut saja novelnya 'Jangan Beri Aku Narkoba', 'Supermodel', dan 'Cewek Matre'.

Belum lagi buku biografinya yang selalu habis terjual, seperti 'The Last Words of Chrisye', dua buku tentang Krisdayanti, '1001 KD' dan 'My Life My Secret'. Ia juga memunculkan biografi tentang Ibu Negara Ani Yudhoyono.

Selain sebagai penulis buku, ia juga laris menjadi penulis skenario. Baru-baru ini, ia menggarap skenario untuk film I Know What You Did on Facebook.

Hal ini berlanjut hingga ia masuk SMA. Di sana, bakat menulisnya mulai terasah. AE aktif mengisi majalah dinding di sekolahnya. Ia lalu melanjutkan studinya di Sastra Belanda UI.


Asyik membaca dari SD

Hobi membaca sudah tumbuh dalam diri AE semenjak dini. Ketika anak-anak sesusianya asyik bermain, AE malah kerap mampir ke perpustakaan temannya, di kawasan Depok.

Keseriusannya terhadap hobi membaca, tak didukung oleh kemampuan financial kedua orangtuanya yang bekerja sebagai pegawai negeri. “Saya nggak pernah dibelikan buku bacaan oleh orangtua. Makanya saya lebih pilih ke perpustakaan saja. Bisa baca buku sepuasnya.” katanya mengenang.

Dedikasinya terhadap dunia tulis-menulis pun pernah dianugerahi She Can Awards dari Tupperware.


Buku yang dipilihnya pun tak sembarangan. Jika anak seusianya memilih membaca komik, AE kecil lebih memilih buku-buku sastra seperti Layar Terkembang, Salah Asuhan, dan Di Bawah Lindungan Ka’Bah. Bacaan ringan favoritnya hanyalah komik Lima Sekawan.


Dan ketika anak-anak seusianya memiliki cita-cita menjadi dokter atau insinyur, AE dengan mantap berkata “Saya ingin menjadi penulis”.

Teteskan air mata menulis biografi Chrisye



Sejak itu, tawaran menulis biografi pun berdatangan. Mulai dari Probosutedjo, Titiek Puspa, hingga penyanyi legendaris alm Chrisye.



Pelajaran berharga didapatnya ketika ia menulis buku berjudul 'The Last Words of Chrisye'. Buku tersebut bertujuan agar pembaca yang sedang menjaga keluarga yang sedang sakit keras bisa tetap tabah. Perasaan tak enak, sedih, hingga tabah berkecamuk ketika AE membuat buku tersebut.



'The Last Words of Chrisye' dibuat ketika Chrisye tengah menjalani pengobatan kanker. “Yang paling berat adalah buku ini dibuat supaya orang tahu tentang perjuangan dan keseharian dia menjelang meninggal. Chrisye saat itu sedang di kemoterapi, dan saya melihatnya berjuang di tengah sakit. Itu membuat saya selalu menangis saat wawancara,” katanya.



Namun perasaan tersebut selalu ditepisnya dengan semangat bahwa bukunya nanti bisa berguna bagi banyak orang.

Nah, bagi anda yang tertarik untuk menekuni dunia tulis-menulis, AE pun memiliki beberapa tips.Menurutnya menulis itu membutuhkan kemauan, ketekunan, dan kesetiaan.


Tak Pernah Mematok Sukses



Hingga saat ini, penghasilan di dunia menulis bisa membuahkan materi yang berlimpah. Lewat penjualan sebuah buku, AE tak lagi pusing memikirkan kehidupannya selama setahun penuh. Uangnya pun masih bisa dipakai membeli mobil, rumah, serta menggaji enam orang karyawan.



Namun, berlimpah materi bukanlah kesuksesan seorang AE. “Saya takut kalau sukses karena materi, saya akan sadar bahwa materi yang membesarkan saya, dan saya tidak mau seperti itu.” tuturnya.



AE mengartikan sukses merupakan sebuah kebahagiaan. “Ketika buku KD laris, saya merasa sukses. Ketika Bu Ani minta dibuatkan biografi, saya merasa sukses. Jadi untuk saya sukses itu adalah sesuatu yang tidak ada patokannya.” katanya.



Wanita yang hobi shopping dan bergaul dengan anak muda tersebut juga merasa bersyukur kesuksesan yang diraihnya bisa dicapai si usia matang.



“Mungkin kalau saya mencapai itu semua saat usia saya 20-an, saya akan jadi orang yang sombong. “ ujarnya.



Harapan ke depan yang belum tercapai ialah ingin go internasional. “Saya ingin buku saya juga bisa dinikmati oleh orang-orang di luar negeri, “ katanya.


Usaha tersebut akan dimulainya dengan menerbitkan buku edisi bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.






“Nggak tahu kenapa, saya waktu itu hanya berpikir ternyata pekerjaan menulis itu full dan fun banget,” katanya ketika dijumpai di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan.



Tahun 1994, ia bekerja di Majalah Hidup. Setelah itu, ia melanjutkan karirnya menjadi wartawan di majalah Femina selama 10 tahun. AE juga sempat menjadi pemimpin redaksi majalah Prodo. Akhirnya di tahun 2003, ia mulai berpikir untuk lebih mandiri.



“Saya ingin punya nama sendiri, walaupun di Femina namanya sudah besar, tetapi rasanya seperti ada yang kurang.” katanya.



Akhirnya ia memutuskan untuk membuat buku. Lalu Krisdayanti menawarinya untuk membuat biografi. Itulah cikal-bakal pertamanya sebagai penulis buku.

Billy Budiman, Kecil-Kecil Jago Saham

Bagi anda yang kerap menggeluti dunia bursa saham, pasti sangat hafal dengan sosok satu ini. Billy Budiman. Selain analisnya yang akurat, di usia yang masih muda, menjadikan Billy dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam dunia bursa saham di Indonesia.

Ternyata ia mewariskan bakat analisanya dari sang ayah, Budiman Chandara. Ketika itu, ayahnya mendapatkan saham secara gratis dari PT Indofood.

Namun, sang ayah begitu sibuk, sehingga tak memiliki waktu untuk mengatur sahamnya. Maka, ia mengajarkan Billy, yang ketika itu masih berusia 10 tahun untuk menguasai perkembangan saham.

“Waktu itu, aku belajar dari melihat running trade yang ada di televisi. Awalnya aku hanya perhatikan saja angka-angka yang lewat ” ceritanya.

Sebagai anak-anak, Billy belum paham benar, namun, ayahnya terus mengajarinya tanpa lelah. Sampai ayahnya menawari Billy suatu hal yang amat menarik baginya.

“Katanya kalau aku bisa kuasai ini, aku bisa beli game sendiri ” jelasnya mengenang.

Billy pun begitu excited untuk belajar. Beberapa bulan belajar bursa saham, Billy selalu meraih untung.

Ketika ia berusia 12 tahun, Billy pun dibawa oleh ayahnya untuk berguru kepada pamannya, yang ketika itu menjabat sebagai direktur sebuah perusahaan sekuritas.

Ia pun langsung dihadapkan pada banyaknya laporan keuangan. “Rasanya nggak ada harapan untuk belajar waktu itu. Lalu aku tanya sama Om, apa nggak ada yang lebih mudah Om?.”

Lantas, Billy pun diboyong ke sebuah ruangan dimana banyak terdapat layar penuh gambar grafik beraneka warna. Dari situlah ia mulai belajar saham dengan cara technical analysis.

Di tahun 2004, Billy belajar selama tiga bulan. Dan siapa sangka, dari hasil analisanya, ia bisa melipat gandakan modal menjadi 200%.

Bangkit dari kegagalan

Sebagai orang yang telah melakoni dunia saham sejak bocah, Billy tak pernah merasa dieksploitasi. Ia malah merasa beruntung bisa mengenal dunia bursa saham dari dulu.

Walaupun usia sekolah, Billy dihadapkan pada rumitnya dunia bursa saham, namun, ia masih bisa beristirahat ketika jam bursa tutup.

“Setelah jam 4 sore, aku juga masih sempatkan ngumpul bareng teman-teman. “

Billy bersyukur, ia termasuk salah satu orang yang diperhitungkan dalam dunia pasar saham di Indonesia.

“Ini bisa dibilang berkat. 90% saham di Indonesia biasanya merugi. Kita bisa menjadi 10% winnernya, jadi aku sangat bersyukur “

Menakar sebuah kesuksesan pun, Billy memiliki jawaban yang cukup dewasa.

“Sukses itu bukan berarti uang. Sukses itu adalah bagaimana kita udah jatuh, tapi bisa bangkit lagi. Kalau pernah merasa kita nggak akan bisa bangkit, coba saja, kita pasti akan bisa bangkit. Itu adalah kesuksesan buat aku. ”

Billy mampu berbicara seperti itu, karena ia pernah merugi hingga 93%. Waktu itu, ia mengaku membaca pasar saham hanya berdasarkan feeling. Karena kapok, ia pun mulai belajar menggunakan analisa berdasarkan teknik analisis, bukan feeling semata.

Mengenai harapan ke depan, pria yang hobi sepakbola dan main drum tersebut ingin menjadi manajer investasi internasional.

“Aku ingin jadi international trade manager. Aku rasa itu cita-cita setiap orang. Karena orang pasti akan menaruh dana di kita. Dengan demikian, kita berarti sudah bisa jadi analis yang orang anggap terpercaya, akurasinya tinggi, dan menguntungkan. “

Bagi anda yang tertarik mengikuti jejak Billy, simak tipsnya agar anda tak terjebak dalam permainan pasar saham.

Menurutnya setiap kali akan bermain saham, hendaknya jangan hanya memainkan feeling semata, karena jika demikian, sama saja dengan bermain judi. Dunia bursa saham harus ditelaah dengan menggunakan analisa yang tepat. Dengan demikian membeli saham sama dengan membeli peluang bisnis.





Aline Adita Merubah Stres jadi Sukses

Menjadi seorang model sebelumnya tak pernah terpikirkan bagi seorang Aline Adita. Pribadinya yang malu-malu membuat dirinya merasa minder di antara teman-temannya. Namun, siapa sangka, Aline merubah hal yang tak mungkin tersebut menjadi nyata. Saat ini, ia lancar berlenggak-lenggok di catwalk Indonesia hingga mancanegara.

Perkenalan Aline di dunia modelling terjadi berkat jasa sang bunda. Ketika itu, ia masih duduk di kelas 3 SMP. Aline dibujuk sang bunda untuk mengikuti sekolah modeling, dengan alasan supaya lebih percaya diri. “Dulu saya paling tidak pede di sekolah, karena saya cewek paling tinggi di sekolah.” katanya.

Aline pun ogah-ogahan mengikuti kelas model yang waktu itu diikutinya di Oky Modelling, sekolah model milik peragawati senior Oky Asokawati.

Membagi waktu antara sekolah dan modeling sempat membuat Aline stress. Siang hari, Aline sekolah, sementara malam nya ia harus bersiap untuk show di berbagai tempat. “Waktu itu, susah banget untuk ngatur jadwal antara sekolah dan modeling. Stres deh, karena ijin waktu sekolah juga susah, belum lagi ngerjain PR, ditambah malamnya harus show.” terang wanita kelahiran Jakarta, 17 Juli 1980 tersebut.

Namun, setelah dijalani, Aline cukup enjoy dengan profesi tersebut. Dengan tinggi badan 177cm dan berat 53kg, Aline terlihat proporsional sebagai seorang model papan atas. Terlebih ketika tawaran show keluar negeri mulai datang padanya. “Setelah sering jalan-jalan keluar negeri, seru banget. Selain pakai baju desainer, bisa sekalian travelling, dibayar pula.” tuturnya sambil tertawa.

Eksis di modelling

Hingga kini, kesibukan Aline di dunia modelling masih menumpuk, walaupun banyak terdapat wajah-wajah baru. Aline mensyukuri hal tersebut. Para desainer tetap memercayakan baju rancangannya untuk dikenakan Aline.

Banyak model-model baru yang menjadikan dunia model sebagai jalan pintas untuk terkenal. Mengenai hal ini, Aline pun sempat miris.

“Menjadi model itu tidaklah gampang. Harus bisa mengontrol diri, tidak besar kepala, dan mau bersusah payah untuk tetap eksis. Model-model baru kebanyakan datang ke lokasi terlambat. Mana sempat fitting baju. Akhirnya, di catwalk, terlihatnya malah berantakan. Baju bagus-bagus jadi nggak enak dilihat.” kata lulusan D3 periklanan Universitas Indonesia tersebut.

Tips Aline sederhana saja. Jangan takut bertanya pada desainer, untuk show, busana yang ingin ditampilkan seperti apa. Setelah itu, mengecek keadaan busana sebelum show, maka segala kekurangan busana tersebut, masih bisa diperbaiki terlebih dahulu.

Lihat saja, sampai sekarang, Aline masih dipercaya para desainer, sampai-sampai melakoni show ke luar negeri.

“Untuk bisa eksis dalam suatu bidang itu harus punya dedikasi tinggi, berusaha di bidang tersebut, dan tidak besar kepala.” katanya.

Melirik aksi sosial
Setelah menjadi model dan presenter, Aline pun melebarkan sayapnya ke bidang sosial. Untuk itu, Aline ingin melakukan hal yang berarti bagi masyarakat luas.

Tak banyak orang yang tahu, bahwa Aline sangat concern dalam kegiatan berbau sosial. Kebanyakan orang mencap Aline sebagai model yang gemar bersenang-senang. Namun, dibalik itu semua, Aline sempat meluangkan waktu utuk berkegiatan sosial.

“Saya merasa masih muda dan sehat. Selama saya masih bisa memberikan yang terbaik untuk masyarakat, saya mau melakukannya.” demikian alasannya.

Aline mulai menjamah kegiatan sosial ketika ditunjuk jadi Duta Campak bersama Ferry Salim. Setelah itu, kegiatan sosialnya pun bertambah. Ia juga aktif di Yayasan Kesehatan Payudara Jakarta, serta menjadi humas salah satu acara kemanusiaan Syair Untuk Sahabat Foundation (SUSF), sebuah acara amal untuk para korban HIV AIDS.

Ditanya tentang ketertarikannya untuk mendirikan sebuah yayasan sosial, Aline menjawabnya dengan sangat excited.

“Kalau saya punya dana, dan banyak waktu, kenapa tidak. Saya sekarang punya teman-teman se- visi, jadi kenapa tidak. Nggak semua orang punya konsen peduli.” katanya.

Mengenai rencana hari tua, Aline ingin memiliki karir baru lagi, yaitu menjadi petani. “Dari dulu saya ingin sekali hari tua saya, saya habiskan untuk bercocok tanam.” tuturnya.

Dalam hidup, Aline memiliki satu prinsip yang terus dipegang teguh. Ia selalu melakukan sesuatu dengan sebaik mungkin. Hal itulah yang menjadikan Aline tetap eksis hingga saat ini. Mau mengikuti jejak Aline?


Ralph Scheunemann, From Zero to Hero

Menjadi orang yang professional membutuhkan banyak perjuangan. Ralph Scheunemann, Marketing Director PT Jakarta International Expo juga mengalaminya. Namun berkat kecintaanya terhadap pekerjaan, Ralph berhasil menjalaninya dengan maksimal.

Event Jakarta Fair yang diselenggarakan di Monas melahirkan persoalan ketika sampai di tangannya. Mulai dari image Jakarta Fair yang kotor, banyak terjadi kekerasan, tindakan pencurian, hingga hal-hal miring lain, memberikan pekerjaan rumah tersendiri baginya.

Dihadapkan pada keadaan awal yang amburadul, tak membuatnya putus asa. Ia berpikir keras, bagaimana menjadikan ajang tahunan tersebut tetap bergengsi, dan diminati oleh masyarakat luas.

Tahun 2002, dua tahun setelah Jakarta Fair dipindahkan ke Arena PRJ, yang sekarang lebih dikenal dengan JI Expo, Kemayoran melahirkan semangat baru.

Seeing is Believing

“Seeing is believing” begitu Ralph mengistilahkannya.

Jakarta Fair yang semula dicap miring, sukses mendatangkan pengunjung hingga 80%. Tak pernah terbayangkan sebelumnya. Bahkan, event yang sempat dijuluki sebagai arena terkotor, kini disulap menjadi tempat yang nyaman, rapi, bersih, dan bebas copet.

Berbagai renovasi pun dilakukan oleh Ralph dan tim nya. Perombakan total dilaksanakan untuk mengubah citra buruk tersebut, sehingga pengunjung tak takut lagi menghadiri exhibition tahunan tersebut.

“Di dalam, penjual kerak telor setiap hari di rolling, dan dihimbau untuk selalu menjaga kebersihan.” katanya.

Ralph bersyukur, arena Jakarta Fair saat ini lebih besar dan bagus, dibandingkan saat dulu dilangsungkan di Monas.

“Ini juga merupakan ajang promosi dan penjualan, jadi masyarakat bisa up date mengenai hal-hal terbaru di Jakarta Fair.” tuturnya.

Ingin mengubah Jakarta menjadi kota destination, seperti Jerman, merupakan obsesi Ralph yang masih terpendam.

Keuntungan Nomor Dua

Di balik kesuksesannya, ada cerita masa kecil yang penuh perjuangan dalam diri Ralph. Cinta Indonesia membuatnya menghabiskan masa kecilnya di Batu, Malang, Jawa Timur.

Namun, untuk bersekolah di sana, tak semudah yang dibayangkan. Ralph kecil ketika itu ingin merasakan bersekolah di negeri. Namun, kendala status WNA, Ralph yang berkewarga negaraan Jerman menjadikan dirinya sulit mengenyam pendidikan di sekolah negeri.

Lantas, ia memilih bersekolah di SD Sang Timur, dan melanjutkannya ke SMP dan SMA Lab School.

Lalu, Ralph meneruskan kuliah di Bournemouth University di Inggris, dengan mengambil jurusan Tourism Management.

Ralph mulai bekerja tahun 1998 sebagai Asisten Executive di Hotel Santika, Jakarta. Kemudian, ia bekerja di sebuah perusahaan Multi Level Marketing (MLM) di Singapore selama dua tahun sebagai Coorporate Manager. Tahun 2002, ia lalu bergabung di JI Expo Group sebagai Marketing Director.

Untuk menjadi seorang Marketing Director yang menangani event besar seperti dirinya, diperlukan banyak sekali research.

Ralph mencontohkan, untuk bisa menangani sebuah event, research harus dilakukan selama dua tahun sebelumnya.

Dalam satu event juga jangan hanya mementingkan keuntungan, karena keuntungan baru akan datang setelah minimal 3 kali event berlangsung.

Proses Membuahkan Sukses

Sebuah kesuksesan menurut Ralph merupakan suatu proses. “Saya cinta Indonesia, saya ingin memberikan sesuatu dalam bidang pariwisata atau dunia pameran.” katanya.

Ralph bahkan tak takut, jika suatu saat posisinya digantikan orang lain. “Saya tipikal orang yang bangga bisa mendidik anak buah saya agar suatu saat nanti mampu, dan mengambil posisi saya.” tuturnya.

Di balik sukses yang diraihnya, ia tak pernah lupa untuk menghabiskan waktu dengan keluarga. Hari-hari padat seperti saat ini, Ralph hanya memiliki sedikit waktu untuk berkumpul dengan keluarga.

“Biasanya pagi hari, saya menyempatkan ngobrol dengan anak saya, atau sekedar telepon.” katanya.

Nah, bagi anda yang ingin sesukses dirinya, jangan hanya memikirkan jalan pintas, tetapi pelajarilah sebuah proses agar bisa menjadi sukses.

Agnes Monica, Tak Pernah Berhenti Bermimpi

Agnes Monica memang penuh dengan sejuta inspirasi. Bagaimana tidak, ia terlahir dengan banyak talenta. Selain sebagai penyanyi, Dia juga kerap wara-wiri di sejumlah iklan televisi dan majalah. Belum lagi aktris, produser, sampai menciptakan line fashion sendiri. Di matanya, kesuksesan tak lebih dari mewujudkan impian menjadi kenyataan.

Berkat mimpinya, ia pun berhasil berduet dengan penyanyi kelas dunia, Michael Bolton.

Sejak kanak-kanak, talenta Agnes di dunia entertainment sudah terlihat. Ia menjadi penyanyi dan presenter acara menyanyi anak-anak. Beranjak dewasa, Agnes pun makin populer. Menjadi bintang sinteron, model, dan juga penyanyi. Sukses yang diraihnya selama ini menurutnya adalah hasil kerja keras dan mimpi besarnya.

Dalam dunia hiburan tanah air, Agnes kerapkali menyabet penghargaan. Yang baru-baru ini diraihnya adalah Artis Solo Wanita Terbaik dari Anugerah Music Indoensia (AMI) Awards 2010.

Albumnya “And The Story Goes” sempat meraih Double Platinum dengan penjualan lebih dari 300.000 copy.

Untuk kancah internasional, ia sempat meraih kehormatan sebagai The Best Asian Artist dan The Best Performance dalam ajang Asia Song Festival di Seoul, Korea Selatan.

Ditahun 2009 juga Agnes kembali ditunjuk sebagai wakil dari Indonesia untuk kedua kalinya dalam The 6th Asian Song Festival 2009.

Sewaktu anak-anak, Agnes bahkan kerap diganjar sejumlah penghargaan. Diantaranya, presenter anak-anak terfavorit dalam Panasonic Award.

Ia juga sempat tampil bermain di serial The Hospital di Taiwan bersama salah satu personil F4, Jerry Yan.

Masih banyak lagi penghargaan lainnya yang diperoleh wanita multi talenta ini. Ia bahkan dipercaya untuk menjadi juri di salah satu ajang pencarian bakat. Namun, impiannya masihlah besar.

“Dua tahun berturut-turut, aku meraih penghargaan di Korea. Itu yang membuat aku yakin ada mimpi besar, dan itu bukanlah hal yang impossible. “ katanya.

Dari penyanyi cilik hingga The Young Diva

Tak banyak anak seusia enam tahun yang memiliki talenta bernyanyi. Namun Agnes memilikinya. Di usianya yang masih amat muda, ia menelurkan tiga buah album anak-anak. Si Meong, Yess, dan Bala-Bala.

Dalam salah satu albumnya, ia juga berkolaborasi dengan Eza Yayang, penyanyi cilik yang juga ngetop di era 90-an.

Sukses menjadi penyanyi cilik, ia pun menjajal dunia presenter di beberapa acara anak-anak, seperti VAN, Tralala-Trirlili, dan acara lainnya.

Beranjak remaja, wanita smart tersebut mulai ditawari beberapa iklan, dan juga membintangi sinetron.

Ketika usianya 15 tahun, ia membintangi sinetron Pernikahan Dini. Dari situ, namanya makin bergaung.

Setelah dewasa, Agnes memantapkan diri untuk membidangi dunia musik. Album pertamanya menjadi penyanyi dewasa pun diluncurkan tahun 2003 berjudul And The Story Goes.

Dari situ, karir Agnes menjadi penyanyi pun tak pernah surut. Ia banyak mendapatkan banyak penghargaan dan tawaran menyanyi hingga luar negeri.

Bahkan, ia sempat mendapatkan julukan sebagai The Young Diva, karena keberhasilannya bermusik di usia muda.

“Untuk menjadi seorang Diva menurutku harus menampilkan yang terbaik. Dan bisa bangkit dari berbagai cobaan, serta konsisten. Banyak diva internasional yang tidak tahan mental ketika menghadapi masalah berat.” tuturnya.

Dan pada tahun ini, albumnya Sacredly Agnezious kembali mendapatkan tempat di hati penggemarnya. Di album tersebut, Agnes pun menambah profesinya menjadi produser. Dan meraih beberapa penghargaan.

“Referensi orang tentang musik bertambah seiring berjalannya waktu. Aku merasa dengan memproduseri album sendiri, self of belongingnya itu lebih besar. Aku puas banget dengan album ini.” katanya.

Ditanya kesulitan menjadi produser dibanding penyanyi, Agnes pun tampak agak lama menjawab. “Kadang idealisme tidak sejalan dengan market.” tuturnya sambil tertawa.

Pengalaman menjadi produser membawa kebanggaan tersendiri baginya. Di usianya yang masih muda, ia dituntut untuk mampu membuat album yang disukai masyarakat.

“Produser itu harus membuat album yang berkualitas, tetapi disukai masyarakat, Ini merupakan pengalaman luar biasa, apalagi mengingat usiaku masih muda.” jelasnya.

Melirik Fashion Indutri

Segudang aktivitas Agnes pun bertambah banyak dengan diluncurkannya line fashion terbarunya, yang diberi nama Anye. Agnes pun giat berpromosi lewat internet.

“Baju-baju yang aku ciptakan sih kebanyakan untuk sehari-hari, yang ready to wear, simple, namun tetap chic dikenakan. Bisa dibilang baju-bajunya Agnes banget” katanya.

Jiwa fashionista memang terlihat dari setiap kesempatannya manggung di berbagai acara. Agnes tak pernah mau untuk mengikuti tren yang sedang berkembang. Ia selalu berusaha untuk menciptakan tren.

“Aku sih kalau pakai baju yang nyaman saja. Dan berusaha mix and match dan melihat perkembangan tren di Korea, Jepang, dan UK. Kalau dibilang trendsetter, itu suatu kebanggaan buatku.” tuturnya.

Namun bisnis Agnes sepertinya berjalan mulus. Terlihat dari banyaknya respon positif dari calon pelanggannya.

"Nggak nyangka sekarang sudah kewalahan banget dengan permintaannya, stok cepat habis," ceritanya.

Kerja keras dan terus bermimpi

Ditanya arti kesuksesan, Agnes memiliki jawaban sendiri. Menurutnya, kesuksesan merupakan buah dari kerja keras yang telah dilakukan selama ini. Ia juga tak main-main dalam hal mewujudkan impian.

“Dari dulu, aku ingin berkarir di luar negeri. Dan ternyata sudah dua kali berturut-turut aku berhasil di Korea. Itu yang membuat aku yakin meraih mimpi besar itu jadi kenyataan. “ katanya.

Mau tahu resep Agnes dalam berkarir? Menurutnya kerja keras dan tidak menyerah merupakan rahasia suksesnya.

“Kalau mau sukses, ya kerja keras terus. Dan jangan menyerah, “ katanya.

Nah, bagi anda yang ingin memiliki karir cemerlang seperti Agnes Monica, mulai sekarang beranilah untuk bermimpi, kerja keras, dan mulailah mewujudkan impian tersebut dengan tidak menyerah.

Juninho Jahja Tak Kenal Rasa Takut

Junino Jahja saat ini bisa menikmati masa kesuksesannya. Bagaimana tidak, sejak tahun 2008, ia dipercaya sebagai Direktur Utama Perum Percetakan Uang RI (Peruri). Yang perlu diacungi jempol, Junino selalu berhasil menjalankan pekerjaannya dengan penuh integritas.



Junino Jahja saat ini masih dipercaya oleh Menteri Negara BUMN menjadi Direktur Utama Perum Peruri sejak Januari 2008. Sebelumnya Junino Jahja pernah berkarier di PT Indosat Tbk dari tahun 1985 sampai dengan tahun 2003 dengan posisi terakhir sebagai Direktur MIDI.


Selanjutnya pada tahun 2004-2007 menjabat sebagai Deputi Pengawasan Internal dan Pengaduan Masyarakat di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).


Siapa sangka, pria santai dan ceria tersebut pernah berada di zona berbahaya. Ia sempat menjabat sebagai Deputi Bidang Pengawasan Internal dan Pengaduan Masyarakat, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).


Memberantas korupsi sepertinya menjadi kenikmatan tersendiri bagi Nino, demikian ia biasa disapa. Ia tak takut berada dalam zona berbahaya.


Hujatan, ancaman, hingga tawaran sejumlah uang pernah disodorkan padanya. Berada di lingkungan KPK juga membuatnya seolah tak bisa bernapas. Setiap hari, ia disibukkan dengan kasus-kasus besar yang menuntutnya untuk stand by 24 jam penuh.


Kewajibannya untuk mengulik setiap persoalan korupsi di Indonesia, sempat membuatnya khawatir bahwa kehidupannya bisa saja berakhir detik ini.


Karir yang dijalankannya sangatlah berat. Ia menghadapi para pemegang kekuasaan dan konglomerat.


“Ketika masuk ke situ, saya sadar bahwa resikonya tinggi. Tetapi hal itu harus dihadapi.” katanya.


Jadilah, ia melakukan pekerjaan tersebut dengan keyakinan, bahwa KPK bisa meminimalisasi tindak korupsi yang terjadi di Indoensia.


Tahun ini, melihat kewibawaan KPK yang sempat diobok-obok, juga didukung penuh rekan-rekannya, Nino kembali terpanggil untuk menegakkan kembali kewibaab KPK sebagai lembaga penegak hukum di Indonesia lewat pemberantasan korupsi.


“Saya ingin mengembalikan KPK seperti semula.” demikian harapannya.


Hal ini diperkuat dengan pencalonan dirinya menjadi Ketua KPK. Keyakinan itu dipegang teguh, dengan harapan, lagi-lagi agar generasi selanjutnya bisa meminimalisasi korupsi yang terjadi di Indonesia.


“Sekarang saya lihat kok lembaga yang saya bangun dengan susah payah, sedang terpuruk, maka saya terpanggil.”tuturnya.

Sempat Ditentang Istri


Keberhasilan Nino tak semuanya berjalan mulus. Waktu SMA, Nino bercita-cita menjadi insinyur elektro. Namun, karena ia lulusan IPS, maka cita-cita itu pun lepas.



Selepas SMA, ia melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi UI. Setelah menjalankan kuliah, Nino ternyata betah. Bahkan, pada tahun 1982, ia terpilih menjadi ketua senat mahasiswa.



Lulus kuliah, Nino aktif sebagai anggota Ikatan Alumni UI (ILUNI). Nino bahkan ikut membantu gerakan mahasiswa 1998 untuk menggulingkan pemerintahan Soeharto waktu itu.



“Saya memang aktif sekali di ILUNI. Dan tahun 1998, istri saya shock ketika mengetahui saya ikut berperan dalam menggulingkan pemerintahan Soeharto. Kami sempat ribut besar “ katanya



Namun, atas anjuran seorang ustad, akhirnya keluarga mereka pun tetap utuh sampai sekarang. Sang istri lantas bisa pelan-pelan menerima keadaan suaminya, yang ketika itu, seorang aktivis.



Maka, saat Nino masuk KPK, keluarganya mendukung 100%. Nino selalu berpesan kepada anak istrinya untuk pasrah jika ada kejadian tidak menyenangkan, seperti masuk penjara, atau bahkan tewas seketika, lantaran resiko pekerjaannya.



Dibalik kesibukannya, Nino selalu menyempatkan waktu untuk berkomunikasi dengan keluarga. Maka, ketika dirinya sibuk dengan pekerjaannya, ia masih menyempatkan diri untuk menelepon atau chatting dengan keluarganya.



“Saya sangat meluangkan waktu untuk keluarga. Saya sempatkan waktu untuk bertemu keluarga, bahkan kalau ada waktu senggang saya ajak keluarga ke ke mall dan ke tempat wisata.“ katanya.

“Untuk mencapai suatu kesuksesan, mudah saja. Cukup dengan jaga integritas dan disiplin. Walaupun benturannya banyak, tetapi yakinlah bahwa anda bisa melakukannya. Dan jangan lupa berdoa.” katanya

Perlunya Memiliki Integritas dan Disiplin


Nino begitu vokal mengemukakan sesuatu. Jika ia tak suka, maka ia langsung mengemukakan hal tersebut kepada orang yang bersangkutan.



Hal ini terjadi di manapun. Menurutnya, demi suatu kebenaran dan prinsip, ia tak mau ditindas.



“Orang kalau pernah tahu masa muda saya, pasti tidak akan menyangka saya bisa sampai seperti ini. Karena saya kerjanya melawan ketidakbenaran. Siapapun dia, kalau saya benar, kenapa harus takut? Apapaun resikonya saya siap. Saya tidak mau ditindas.” jelasnya.



Karena hal tersebut, ia sempat didepak dari perusahaan tempatnya bekerja. Belum lagi atas keberaniannya mengemukakan pendapat, ia sempat mogok kuliah, karena dianggap menjadi provokator aksi mahasiswa yang dilakukan di kampusnya.



Mau menjadi sosok tegas dan cemerlang berkarir seperti Nino? Kuncinya sederhana, menurutnya, anda harus bekerja dengan penuh integritas dan disiplin tinggi.


Dr. Deby Susanti Vinski, Pelopor Anti Aging Indonesia

Beratnya cobaan hidup menjadikan semangat baru bagi seorang dr .Deby Susanti Vinski. Kiprahnya berjuang memperkenalkan dunia anti aging di Indonesia sempat mengalami beberapa kendala. Namun, Deby tetap optimis, dan hasilnya, ia berhasil menjadi pelopor ilmu anti aging di Indonesia.

Jika di dunia kecantikan tradisional, kita mengenal nama-nama seperti Martha Tilaar dan Moeryati Soedibyo, kini di dunia kecantikan modern, Indonesia memiliki seorang dokter specialist anti aging pertama. Dia adalah dr. Deby Susanti Vinski.

Di Indonesia, mungkin nama dr. Deby Susanti Vinski mungkin hanya dikenal oleh kalangan tertentu, terutama para wanita.Wajar saja, karena Deby lebih dikenal karena menangani para wanita yang bermasalah terhadap penuaan dini. Tapi di dunia internasional, namanya melambung, hingga mampu mengharumkan nama Indonesia di dunia kesehatan.

Bulan Mei tahun ini, ia mempelopori World Society of Anti Aging Medicine (WOSAAM) atau konggres anti aging pertama yang dihadiri oleh 500 peserta dari 15 negara di dunia. Namun, perjalanannya bukan tanpa hambatan. Lika-liku pahit sempat dijalaninya hingga meraih sukses di dunia kesehatan.

Ditentang orangtua

Apakah anda pernah mendengar ilmu tentang anti aging? Anti aging sebenarnya merupakan multi disiplin ilmu. Dalam dunia kesehatan, anti aging mempelajari kesehatan sejak dini, mulai dari kesehatan luar hingga dalam tubuh. Bedanya anti aging dengan ilmu kedokteran yang lain, ialah dalam anti aging diajarkan segala hal berbau positif, seperti selalu tersenyum, berpikir positif, dan bergaya hidup sehat semenjak dini.

Seorang dokter spesialis anti aging, diharamkan untuk tampil berantakan, sebaliknya, ia harus selalu tersenyum, dan ramah terhadap pasien. Pantas saja, Deby selalu terlihat cantik dan fresh di hadapan para pasiennya.

Ketertarikan dokter bermata indah tersebut dalam mempelajari anti aging, terbentuk ketika ia melihat ayahnya sakit stroke di usia 60 tahun. “Saya sedih sekali. Pada saat itu, ayah yang biasanya aktif dan gesit, tiba-tiba tak berdaya,” katanya ketika dijumpai di klinik sekaligus tempat tinggalnya di wilayah Permata Hijau, Jakarta Barat.

Dari situ, Deby belajar, bahwa ridak ada obat ampuh yang bisa menangani penyakit stroke. Deby pun belajar tentang ilmu yang terbilang baru di dunia.

Akhirnya, ia pun berhasil. Bukan hanya sang ayah yang mampu disembuhkan, tetapi pasien-pasien lain juga mampu sehat kembali, mulai dari keremajaan pikiran, sehingga bisa kembali berprestasi.

Dalam memperlajari hal tersebut, wanita kelahiran Makassar 9 November 1967 ini sempat mengalami bentrok dengan orangtuanya. Sang ibu, menentang, dan ingin Deby bisa memilih disiplin ilmu yang sudah ada.

“Karena waktu itu, saya ambil kuliah kedokteran, Mami ingin saya mengambil jurusan yang sudah dikenal saja, seperti dokter spesialis kulit dan kelamin, dokter jantung, pokoknya yang sudah ada di Indonesia, tapi saya nggak mau, dan saya tetep kekeuh dengan pilihan saya, sehingga akhirnya ibu saya pasrah saja pada pilihan saya,” katanya

Akhirnya, wanita lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi tersebut melanjutkan studinya dengan mengambil jurusan International Hormone Specialist di Brussel, Belgia. Tak cukup di situ, ia lalu mengambil jurusan spesialis anti aging di WOSAAM, Paris, Perancis tahun 2006-2008.

Pulang ke Indonesia, Deby lantas berhasil meyakinkan keluarganya bahwa ilmu kedokteran yang dipilihnya juga mampu dijadikan sandaran hidup, karena ilmu anti aging ternyata mendapat sambutan yang baik di Indonesia.

Ingin menjadi perintis

Sebelum dikenal luas sebagai dokter, Deby adalah seorang pengusaha. Jiwa usahawan sudah terlihat sejak dirinya kecil. Karena itu, di usia 12 tahun, Deby sudah diperkenalkan pada dunia bisnis oleh sang ayah, yang kebetulan juga adalah pengusaha.

Hingga saat ini, ia sukses menggawangi beberapa bidang usaha. Diantaranya, sebagai President-Director PT. Eradunia Interperdana, selain itu, ia juga menjadi Chief Executive Officer PT Eradunia International Group. Kegiatan lainnya, ia sempat menjadi Rektor di Sedaya International University, Jakarta, yang merupakan share holder dari Auston Group, Singapore.

Kesibukan lainnya, tentu saja menjadi President di Indonesian Institute of Aesthetic & Anti-Aging Medicine serta Founder di Indonesian Anti-Aging Society. Melihat perkembangan karirnya, Deby rasanya memang ingin menjadi seorang perintis, ketimbang pengikut.

“Saya sadar harus menjadi leader, begitu papa saya sakit, memang belum cukup ilmu saya. Saya sadar bahwa negara saya butuh. Daripada saya ngomel-ngomel sama pemerintah mengenai apa yang tidak ada, lebih baik saya merintisnya.” katanya mengenai jiwa seorang leader yang tumbuh dalam dirinya.

Namun, menjadi pelopor terkadang membuatnya merasa sendirian. Ketika ia menghadiri pertemuan dengan para dokter, para dokter selalu berkumpul dengan anggota-anggota lain seprofesinya. Hanya Deby yang tidak memiliki perkumpulan dokter spesialis anti aging, Tetapi di saat itu, orang-orang terdekatnya sempat memberi dukungan. Dari Dewi Motik, Martha Tilaar, hingga ibu Ani Yudhoyono memberi support pada dirinya untuk tak takut merasa sendiri demi melakukan hal positif.

Ke depannya, wanita yang hobi scuba diving tersebut berencana membuka program studi Master of Anti Aging di Universitas Padjajaran, Bandung, dan Universitas Kristen Indonesia, Jakarta.

Keterpurukan yang pernah dijalaninya saat ayahnya jatuh sakit berhasil memberinya inspirasi. Deby pun menganggap sebuah kesuksesan ketika ia berhasil bangun dari keterpurukan tersebut.

Selain itu, Deby mendefenisiskan sebuah kesuksesan, ketika ia mampu menyejahterakan karyawannya. “Sukses berarti bisa menyelesaikan segala masalah dan berhasil bangun dari kegagalan anda. Kesuksesan yang lain, adalah ketika saya tidak pernah telat membayar gaji karyawan,” katanya sambil tertawa.

Ternyata menjadi pelopor bisa dilakukan dengan semangat tinggi dan perjuangan untuk terus belajar.

Penghargaan yang pernah diraih dr Deby Susanti Vinski

Kartini Award from Madame President Susilo Bambang Yudhoyono, Kategori Ilmu pengetahuan (2009) sebagai Pelopor Kedokteran Anti-Aging Indonesia
Executive Award (Anugerah Citra Executive Indonesia 1999)
Tourism Award (Anugerah Karya Wisata Indonesia 1997)
Best Dressed Woman (1996) from YAPMI
Best Alumni (1993) from John Robert Powers International